Memprihatinkan, SDN 3 Filial Seperti Sangkar Kambing

suasana-KBM-SDN-Kutarang-CibitungBanyuasin, BP-Kondisi SDN 3 Sumber Marga Telang, kelas filial sungguh memprihatinkan.Puluhan   murid terpaksa belajar di gubuk sekolah yang reot tanpa pintu dan jendela.
Saat disambangi Berita Pagi, Kamis (3/2) bendera merah putih bertiang bambu berkibar dengan gagahnya di depan gubuk reot yang berisi murid sekolah.
Tampak sepatu para murid SD berjejer di depan ruang masuk kelas. Kusen pintu dan jendela banyak berlubang akibat serangan rayap, lantai kelas juga nyaris seperti tanah, karena mayoritas berlubang.
Toilet sekolah sangat darurat tanpa pintu dan tanpa ruang guru.
Ros (42) salah seorang guru setempat mengatakan, sekolah ini merupakan sekolah Filial atau kelas jauh dari SD3 Sumber Marga Telang. “Karena kalau harus sekolah ke SD3 di desa Karang Anyar, harus menyerang dan berjalan jauh. Sehingga dibentuk kelas jauh di sini, sekitar 10 tahun lalu,” jelasnya.
Dia mengakui kondisi kelas cukup memprihatinkan bahkan ruang guru juga tidak ada. Namun, dua tahun lalu pemerintah telah membangun dua ruang belajar baru. “Meski hanya dua kelas, kami sangat terbantu, setidaknya kalau dilihat dari jauh, orang tahu kalau ini sekolah,” katanya.
Meski kondisi serba kekurangan, antusias warga sekitar untuk mengenyam pendidikan cukup tinggi. Terbukti jumlah muridnya mencapai seratusan dan sudah tiga kali melakukan ujian kelulusan. “Namun kalau hujan, jumlah murid bisa turn drastis, lebih dari 50 persen tidak hadir,” jelasnya.
Karena, untuk mencapai ke sekolah anak-anak SD tersebut mesti berjalan berkili-kilo meter melintasi lumpur.
“Mayoritas mereka jalan kaki, hanya sebagian kecil yang diantar pakai kendaraan,” ungkapnya.
Jalan di kawasan Parit 4 sampai parit 12 yang mayoritas dilintasi murid SD tersebut, masih berupa tanah kuning.
Bila musim kemarau berdebu tebal, saat hujan seperti bubur. “Kalaupun ada yang sampai ke sekolahan, kebanyakan dalam keadaan basah, atau pakaian kotor kena lumpur. Tapi ada juga yang sengaja tidak pakai pakaian sekolah di perjalanan. Seragam sekolah dimasukkan dalam Kresek, tiba di sekolah baru ganti,” ungkapnya sembari tersenyum.
Kondisi belajar mengajar di kelas juga tak kalah memprihatinkan saat hujan turun. Mulai dari atap bocor, hujan angin yang menerobos kelas tanpa jendela dan pintu, serta sergapan banjir. “Tapi belajar mengajar tetap berjalan, selagi muridnya masih ada yang datang,” katanya.
Dalam kondisi fasilitas yang terbatas itu, mereka juga tetap menjalankan upacara bendera seperti sekolah lainnya. Bedanya, di sana tidak ada petugas penggeret bendera. “Benderanya langsung di ikat di tiang bambu, tiangnya yang bisa mengerek bendera belum sampai, tapi upacara masih,” katanya.
Dia melanjutkan, untuk mendidik ratusan murid dari kelas 1-6 di sana, ditangani 4 guru PNS dan 3 guru honorer.
“Untuk sementara ini masih bisa ditangani,” katanya.
Namun, berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, jumlah murid setiap tahunnya terus meningkat. Kalu kedepannya bertambah lagi kemungkinan gurunya juga mesti ditambah. Bahkan ada saran dari para wali murid, kalau sekloh ini benar-benar dijadikan sekolah sendiri, bukan lagi kelas definitif.
“Karena dari jumlah muridnya sudah memadai dan ketersediaan sekolah di sini belum ada. Tapi itu kewenangan dinas, tugas kami hanya mendidik dan mengajar,” katanya. mew


Leave a Reply