
Jakarta – Tahun 2019 ini, kaki-kaki mereka masih mengayuh pedal di atas aspal Ibu Kota. Mereka bukan tukang becak yang belakangan keberadaannya didukung Gubernur Anies Baswedan, melainkan tukang ojek sepeda.
Ojek sepeda masih dapat ditemui di seputaran Stasiun Jakarta Kota dan Pasar Pagi Lama Asemka di kawasan Jakarta Barat, dan juga di seputar Tembok Bolong Tanjung Priok Jakarta Utara. Ada pula ojek sepeda yang telah berevolusi di kawasan Kota Tua.
Mereka para penarik ojek sepeda dapat ditemui di sejumlah titik Jakarta. Rata-rata usianya sudah lewat paruh baya. Mereka adalah orang-orang tua dengan sepeda tua.
menemui mereka. Di Stasiun Jakarta Kota, ada Syahirin, Darmadi, dan Thamrin yang mau berbagi cerita tentang pekerjaan mereka. Di Pasar Pagi Lama Asemka, ada tukang ojek sepeda yang beroperasi di antaranya Jamari dan Trimo. Di Tanjung Priok, Slamet masih setia mengayuh ontelnya sejak setengah abad silam.
Penampilan sepeda mereka rata-rata sama, yakni sepeda ontel yang sudah mengelupas catnya. Jok belakang dibuat empuk dengan lapisan busa, supaya penumpang tak kesakitan saat dibonceng. Jalu sepeda yang lebih panjang dipasang di kanan dan kiri roda belakang, sebagai pijakan kaki penumpang. Kadang sadel sepeda dibungkus kain atau kresek. Sepeda-sepeda seperti itulah yang menjadi alat pencari nafkah mereka.
Kayuhan mereka tak semakin ringan melewati zaman. Ojek tanpa polusi pembakaran bahan bakar minyak ini jelas kalah cepat dan kalah canggih ketimbang ojek sepeda motor, apalagi yang berbasis daring. Penghasilan ojek sepeda juga tak seberapa.
Bukannya tak mencoba beralih profesi yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman, mereka pernah menjajal usaha lain namun tak sukses. Ada pula kendala lain yang merintangi mereka berubah menjadi pengemudi ojek daring.
Jadi tukang ojek sepeda pun mereka sudah bersyukur. Sebagian dari mereka bercerita, mengojek sepeda membawa efek kesehatan. Bahkan penyakit yang sebelumnya mereka derita bisa sembuh gara-gara ngontel.
Mereka punya prediksi tentang masa depan pekerjaan ramah lingkungan ini. Prediksi mereka bernada pesimis.
Para penarik ojek sepeda ontel masih bertahan hingga kini dengan sedikit harapan yang masih tersisa di batin . Apakah mereka merupakan generasi terakhir?
(dnu/dnu)