Site icon Trijaya FM Palembang

Pergerakan Bursa Saham Global Sepekan

Pergerakan bursa saham global sepekan dipengaruhi beberapa sentimen, antara lain:

Indeks utama Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat (22/11). Delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir positif, dengan sektor industri dan consumer discretionary memimpin kenaikan dengan kenaikan masing-masing sebesar 1,36% dan 1,18%*. Indeks Russell 2000 yang berfokus perusahaan berkapitalisasi kecil mengungguli indeks kapitalisasi besar dengan naik 1,8% secara harian dan naik 4,3% secara mingguan. Sementara itu, layanan komunikasi dan utilitas memimpin pelemahan dengan penurunan masing-masing sebesar 0,69% dan 0,66%.
Para pelaku pasar tengah menunggu perkembangan geopolitik dan kondisi ekonomi AS setelah terpilihnya Donald Trump*. Spekulasi mengenai langkah The Fed selanjutnya turut dipengaruhi oleh proyeksi bagaimana rencana kebijakan ekonomi Donald Trump dapat mempengaruhi inflasi. Menurut FedWatch Tool dari CME Group, saat ini terdapat 59,6% peluang bahwa the Fed akan menurunkan suku bunganya sebesar 25 basis poin di bulan Desember. Selain itu, para investor terus mengamati penunjukan Menteri Keuangan Trump yang akan datang, yang dapat memiliki implikasi signifikan terhadap ekonomi AS. Sementara itu, geopolitik turut menjadi perhatian pasar setelah terjadinya pertukaran rudal antara Ukraina dan Rusia dan penyesuaian kebijakan nuklir Rusia.
Perdana Menteri (PM) Jepang, Shigeru Ishiba, mengumumkan paket stimulus hingga Rp4.021 triliun*. Hal ini merupakan tindak lanjut dari janjinya untuk meningkatkan dukungan bagi rumah tangga dan bisnis yang kesulitan dalam menghadapi biaya hidup yang tinggi. Penyusunan paket stimulus dengan anggaran tambahan yang akan menyusul menjadi ujian penting bagi kemampuan Ishiba untuk melanjutkan kebijakannya. Kesepakatan yang tercapai mengenai paket stimulus ini memberikan Ishiba landasan yang lebih kuat dalam mempertahankan pemerintahannya menjelang sejumlah tantangan lainnya, termasuk anggaran tahunan untuk tahun fiskal berikutnya.

*Domestic Highlights*

Perkembangan dari pasar saham domestik pada akhir pekan lalu (22/11) menunjukkan IHSG ditutup menguat sebesar 0,48% (wow) ke posisi 7.195,57 dari penutupan pekan sebelumnya (15/11) pada level 7.161,26*. Rata-rata nilai transaksi harian sepanjang pekan lalu turun dibandingkan pekan sebelumnya, yakni menjadi Rp9,93 triliun dari sebelumnya Rp12,28 triliun. Dengan demikian, rata-rata nilai transaksi harian sejak awal tahun senilai Rp12,77 triliun. Sementara itu, sepanjang pekan lalu investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp3,65 triliun. *Secara akumulatif, investor asing membukukan net buy senilai Rp25,46 triliun sejak awal tahun*. Rupiah berdasarkan kurs Bloomberg terdepresiasi ke level Rp15.875/USD dari sebelumnya sebesar Rp15.855/USD. Adapun sektor technology, consumer cyclicals, dan infrastructure mencatatkan kenaikan paling besar pada tren penguatan IHSG sepanjang pekan lalu.

*Beberapa informasi ekonomi penting selama sepekan kemarin* antara lain:

BI memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 6% pada November 2024*. Keputusan ini memastikan terkendalinya inflasi dalam sasaran 2,5±1% pada 2024 dan 2025, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
BPS: Neraca perdagangan Indonesia surplus USD2,48 miliar pada bulan Oktober 2024*. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 54 bulan berturut-turut.
BI: Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatatkan surplus sebesar USD5,9 miliar pada triwulan III-2024*. Angka ini membaik dibandingkan NPI pada triwulan II-2024 yang mencatatkan defisit sebesar USD0,6 miliar.
OJK: Penyaluran kredit perbankan tumbuh 10,85% (yoy) menjadi Rp7.579 triliun per kuartal III-2024*. Sejalan, nilai dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh 7,04% (yoy) menjadi Rp8.721 trilliun pada periode yang sama.
BI: Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tumbuh sebesar 8,3% (yoy) menjadi USD427,8 miliar per triwulan III-2024*. Perkembangan ULN ini bersumber dari sektor publik dan faktor pelemahan mata uang dolar AS terhadap rupiah.
* *BI telah menyalurkan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) sebesar Rp259 triliun per Oktober 2024*. Insentif tersebut disalurkan pada sektor hilirisasi mineral dan batu bara (minerba) dan pangan, otomotif, perdagangan dan listrik, gas dan air, pariwisata dan ekonomi kreatif, serta UMKM.
BKPM mencatatkan realisasi investasi di bidang hilirisasi sebesar Rp272,91 triliun per September 2024. Jumlah ini didominasi sektor mineral sebesar Rp170,78 triliun dengan kontribusi terbesar dari nikel senilai Rp113,77 triliun.