Palembang – Ketiga indeks Utama bursa saham Wall Street ditutup turun secara serempak pada perdagangan kemarin yang dipengaruhi oleh kebijakan tarif dagang Trump. Sebanyak lima dari 11 sektor utama S&P naik, dengan sektor defensif seperti perawatan kesehatan dan kebutuhan pokok konsumen memimpin kenaikan sementara teknologi informasi dan barang konsumsi non-primer turun paling dalam*. Indeks Volatilitas Cboe, yang dikenal sebagai pengukur kecemasan Wall Street, menyentuh level tertingginya dalam seminggu sebelum turun ke 18,6.
Pada 1 Februari 2025, Donald Trump menandatangani tiga perintah eksekutif untuk mengenakan tarif dagang baru terhadap sejumlah negara. Trump menetapkan tarif 25% untuk barang impor Kanada dan Meksiko serta 10% untuk China*. Khusus energi, impor dari Kanada berlaku lebih rendah, 10%, untuk meminimalkan dampak pada harga bensin dan minyak pemanas rumah tangga. Kebijakan ini dinilai dapat menyebabkan biaya bagi masyarakat dan sentimen negatif bagi pasar, termasuk dengan adanya kemungkinan kenaikan inflasi.
* *Beberapa data ekonomi menjadi fokus investor pada awal bulan ini. Sektor manufaktur AS tumbuh untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun pada bulan Januari, menurut data dari Institute for Supply Management*. PMI manufaktur AS tercatat sebesar 50,9 pada bulan Januari. Angka tersebut naik dari 49,2 pada bulan sebelumnya. Angka ini juga menjadi tanda ekspansi manufaktur pertama sejak 26 bulan belakangan (>50). Perbaikan terjadi pada aspek yang luas, yang menandakan peningkatan permintaan dan kapasitas produksi.
* *Pasar juga memantau laporan keuangan perusahaan AS untuk tahun buku 2024. Saham Tyson Foods naik 2,2% setelah perusahaan pengepakan daging itu menaikkan perkiraan penjualan tahunannya*, sementara saham IDEXX Laboratories melonjak 11,1% setelah pembuat diagnostik hewan itu mengalahkan estimasi laba dan pendapatan kuartal keempat.
* *Pelemahan pasar saham masih dipengaruhi oleh penurunan saham teknologi akibat DeepSeek pada pekan lalu*. Saham Nvidia turun 2,8% dan indeks saham semikonduktor turun 1,8%.
*Domestic Highlights*
* *Perkembangan dari pasar saham domestik menunjukkan IHSG pada Senin (3/2) ditutup melemah 1,11% (dtd) ke posisi 7.030,06 dari penutupan sebelumnya pada level 7.109,20*. Nilai transaksi pada hari kemarin sebesar Rp11,69 triliun, dengan rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp10,76 triliun. Sementara itu, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp274,84 miliar. *Secara akumulatif, investor asing membukukan net sell senilai Rp3,98 triliun sejak awal tahun*. Rupiah berdasarkan kurs Bloomberg terdepresiasi ke level Rp16.435/USD dari sebelumnya Rp16.300/USD.
*Beberapa perkembangan dari dalam negeri lainnya*, yaitu:
* *BPS mencatat IHK mengalami deflasi sebesar 0,76% (yoy dan mom) pada Januari 2025 menjadi 105,99*. Deflasi terbesar berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 9,16% dengan andil 1,44%.
* *PMI Manufaktur bulan Januari 2025 naik ke 51,9 dari 51,2 bulan sebelumnya, tertinggi sejak Mei 2024*. Sektor manufaktur Indonesia mengawali 2025 dengan kuat, ditandai dengan peningkatan output, permintaan, dan ekspansi tenaga kerja.
* *Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara akan memiliki modal awal minimal Rp1.000 triliun, sesuai Pasal 3F RUU BUMN*. Sumber modalnya berasal dari PMN, termasuk dana tunai, aset negara, saham, dan lainnya.
* *PBPS mencatat produksi beras Indonesia pada 2024 turun 1,54% menjadi 30,62 juta ton dari 31,10 juta ton pada 2023*. Penurunan ini dipengaruhi El-Nino berkepanjangan yang berdampak pada subround I (Januari-April 2024).
* *Pemerintah terus menyalurkan bansos berupa bantuan tunai, pangan, dan pendidikan dengan pemutakhiran data penerima*. Pada Februari 2025, bansos yang cair meliputi PKH dengan besaran sesuai kategori penerima dan Kartu Sembako sebesar Rp200.000 per bulan.
*Corporate Highlights*
* *NISP mencatat laba Rp4,86 triliun pada 2024 dengan kenaikan 18,82% dari tahun sebelumnya*. Total aset mencapai Rp281 triliun dengan ekuitas meningkat menjadi Rp40,69 triliun.
* *BBRI menyiapkan anggaran Rp3 triliun untuk melakukan buyback saham pada periode 12 Maret 2025 hingga 11 Maret 2026*. Buyback akan didanai dari kas internal tanpa berdampak signifikan pada pendapatan dan biaya operasional.
* *HEXA mencatat laba bersih USD21,19 juta pada kuartal III-2024 dengan penurunan 51,67% dari tahun sebelumnya*. Total aset mencapai USD435,36 juta dengan ekuitas turun menjadi USD161,37 juta.
* *FUJI mencatatkan laba bersih Rp11,03 miliar pada 2024 dengan peningkatan 185% dari tahun sebelumnya*. Total pendapatan mencapai Rp14,53 miliar dengan pertumbuhan 52,3% didukung oleh peningkatan pembiayaan.
* *RIGS mencatat laba bersih Rp47,69 miliar pada paruh pertama 2024 dengan peningkatan 19,55% dari tahun sebelumnya*. Total aset mencapai Rp825,07 miliar dengan defisit turun menjadi Rp184,65 miliar.
