Pergerakan bursa saham global sepekan dipengaruhi beberapa sentimen, antara lain:
Bursa saham AS, Wall Street, ditutup menguat signifikan pada perdagangan Jumat (27/6). Pada sesi ini, indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high). Sektor konsumen diskresioner menjadi penopang utama kenaikan indeks S&P 500. Pada sesi ini, saham produsen chip Micron mengalami kenaikan didorong oleh optimisme terhadap prospek kinerja turut mendorong minat investor terhadap saham terkait kecerdasan buatan. Selain itu, saham Nvidia naik 1,8%, mendekati kapitalisasi pasar USD4 triliun. Saham Nike juga melonjak 15,2% setelah memperkirakan penurunan pendapatan kuartal pertama yang lebih kecil dari perkiraan.
Kenaikan indeks utama Wall Street turut didorong oleh optimisme investor terhadap kesepakatan perdagangan AS dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Dari perkembangan geopolitik, presiden AS Donald Trump memperkirakan bahwa gencatan senjata di Gaza mungkin akan terjadi sebentar lagi. Sementara itu, laporan Departemen Perdagangan menunjukkan bahwa pendapatan dan pengeluaran konsumen mengalami kontraksi tak terduga pada Mei. Meskipun inflasi masih berada di atas target tahunan The Fed sebesar 2%, namun pertumbuhan harga belum dipengaruhi oleh kebijakan tarif. Survei terpisah dari Universitas Michigan menunjukkan data perbaikan sentimen konsumen bulan Juni, meski belum mencapai level optimisme pasca pemilu Desember lalu. Pasar kini memperkirakan peluang sebesar 76% bahwa The Fed akan mulai memangkas suku bunga pada September, dan peluang 19% bahwa pemangkasan pertama terjadi secepatnya pada Juli, menurut alat FedWatch dari CME Group.
Harga komoditas turut terpengaruh di tengah perkembangan kondisi geopolitik global. Harga minyak mentah dunia ditutup stabil pada akhir pekan kemarin setelah sempat melemah di tengah laporan rencana kenaikan produksi oleh OPEC+ dan meredanya ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran. Sementara itu, harga emas turun tajam pada perdagangan Jumat (27/6) seiring dengan meningkatnya optimisme pasar pasca tercapainya kesepakatan perdagangan antara AS dan China. Hal ini menurunkan permintaan terhadap aset yang bersifat safe heavens, termasuk emas.
Domestic Highlights
Perkembangan dari pasar saham domestik pada akhir pekan lalu (26/6) menunjukkan IHSG ditutup melemah sebesar 0,14% (wtd) ke posisi 6.897,40 dari penutupan pekan sebelumnya (20/6) pada level 6.907,14. Rata-rata nilai transaksi harian sepanjang pekan lalu turun dibandingkan pekan sebelumnya, yakni menjadi Rp13,15 triliun dari sebelumnya Rp15,01 triliun. Dengan demikian, rata-rata nilai transaksi harian sejak awal tahun senilai Rp13,29 triliun. Sementara itu, sepanjang pekan lalu investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp113 miliar. Secara akumulatif, investor asing membukukan net sell senilai Rp53,21 triliun sejak awal tahun. Rupiah berdasarkan kurs Bloomberg terapresiasi ke level Rp16.205/USD dari sebelumnya sebesar Rp16.385/USD.
Beberapa informasi ekonomi penting selama sepekan kemarin, antara lain:
BI: Uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2025 tumbuh 4,9% (yoy) menjadi Rp9.406,6 triliun*. Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 6,3% (yoy) dan uang kuasi sebesar 1,5% (yoy).
Menkeu RI: Surplus neraca perdagangan RI mencapai USD4,9 miliar pada Mei 2025. Angka tersebut meningkat 2962% (mom) dibandingkan bulan April 2025 yang sebesar USD160 juta.
Presiden RI berencana membidik pasar ekspor baru untuk RI, seperti Afrika, Amerika latin, Eurasia, dan Uni Eropa*. Hal ini sebagai bentuk respon untuk memitigasi dampak tarif resiprokal AS.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp11,93 triliun untuk penyaluran penambahan bansos*. Adapun bantuan yang ditambah adalah Kartu Sembako sebesar Rp200.000 per bulan dan bantuan pangan berupa 10 kg beras per bulan.
Kemnaker RI: Jumlah PHK hingga awal Juni 2025 mencapai lebih dari 30 ribu orang*. Angka tersebut melonjak dibandingkan laporan sebelumnya yang sebanyak 26 ribu orang pada 20 Mei 2025.
Indonesia menurunkan anggaran program makan gratis menjadi Rp350 triliun, turun 22% dari proyeksi awal*. Penyesuaian tersebut memberi ruang fiskal dan meredakan kekhawatiran defisit di tengah proyek besar Pemerintahan Presiden Prabowo.
BPI Danantara tertarik berinvestasi di media dan hiburan, termasuk menjajaki kerja sama dengan Korea Selatan. CIO Danantara mengatakan berinvestasi di sektor tersebut selain memperluas portfolio juga dapat dikenal secara global.
