Palembang – Pasar keuangan global dan domestik sepanjang pekan kedua April 2026 diwarnai oleh volatilitas tinggi akibat eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Meski dibayangi ketidakpastian, pasar saham domestik menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah tekanan nilai tukar Rupiah.(6-10 April 2026)
Tinjauan Pasar Global: Gencatan Senjata Rapuh & Ancaman Inflasi Energi
Bursa Wall Street bergerak variatif dengan kecenderungan hati-hati. Meskipun mencatatkan kenaikan persentase mingguan terbesar sejak November yang ditopang sektor teknologi, sentimen negatif datang dari gagalnya negosiasi di Islamabad pada Minggu (12/4).
- Kegagalan Diplomasi: Perundingan AS-Iran untuk mengakhiri konflik enam minggu berakhir buntu. Isu krusial tetap tertahan pada program nuklir Iran dan kendali atas Selat Hormuz. Pihak Iran menilai tuntutan AS berlebihan, sementara AS menegaskan komitmen non-nuklir adalah syarat mutlak.
- Guncangan Ekonomi AS: Indeks Harga Konsumen (IHK) AS melonjak tajam dalam empat tahun terakhir akibat kenaikan harga energi pasca-perang. Sentimen konsumen versi Universitas Michigan anjlok ke level terendah sepanjang masa.
- Sikap The Fed: Pejabat Federal Reserve mengindikasikan kenaikan suku bunga tetap diperlukan guna melawan inflasi yang menjauh dari target 2\%. Guncangan harga minyak diprediksi akan memperlama periode inflasi tinggi di AS.
Pasar Domestik: IHSG Menguat Tajam di Tengah Net Sell Asing
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa impresif meski berada di bawah tekanan makro.
- Pergerakan Indeks: IHSG ditutup menguat 6,14% (wtd) ke level 7.458,50 dari posisi pekan sebelumnya di 7.026,78.
- Likuiditas Pasar: Rata-rata nilai transaksi harian naik menjadi Rp17,32 triliun. Namun, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp3,31 triliun dalam sepekan (akumulasi net sell YTD mencapai Rp37,14 triliun).
- Nilai Tukar: Rupiah terdepresiasi ke level Rp17.098/USD. Bank Indonesia (BI) merespons dengan intervensi di pasar spot dan Non-Deliverable Forward (NDF) serta siap melakukan pembelian SBN di pasar sekunder demi menjaga stabilitas.
Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 sebesar 4,7%. Angka ini merefleksikan sikap waspada terhadap kenaikan harga minyak global dan perlambatan investasi akibat risiko geopolitik yang masih tinggi.
