Jakarta – Di dalam sebuah organisasi, tidak semua kontribusi tampil di ruang-ruang utama. Sebagian justru bekerja dalam senyap, namun memberi daya tahan yang nyata. Di Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, peran itu tercermin pada sosok Nina Septiana Nugroho.
Nina bukan hanya pengurus, tetapi juga representasi dari komitmen yang dijalankan secara konsisten. Sejak awal bergabung atas ajakan Ketua Umum FORWAN, Sutrisno “Buyil”, ia telah menempatkan dirinya sebagai bagian dari proses panjang membangun organisasi.
“Saya percaya, ketika kita sudah berkomitmen, maka harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Apa yang bisa saya bantu untuk FORWAN, akan saya lakukan,” ujar Nina.
Komitmen tersebut terwujud dalam berbagai kontribusi nyata yang kerap luput dari sorotan. Ia berinisiatif menyediakan seragam pengurus untuk dua periode sekaligus, 2021–2025 dan 2025–2029—sebuah langkah yang bukan hanya administratif, tetapi juga simbol kebersamaan dan identitas organisasi.
Peran Nina juga terlihat dalam berbagai kegiatan strategis FORWAN, termasuk dukungan pada ajang Anugerah Kartini Musik dan Film 2025. Namun, kontribusinya tidak berhenti pada hal-hal formal.
Dalam sejumlah momen, ia hadir justru ketika organisasi membutuhkan sentuhan kepedulian. Mulai dari menyediakan kebutuhan dasar acara hingga memastikan kenyamanan para tamu undangan. Bahkan, dalam peringatan ulang tahun FORWAN, ia menyiapkan tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.
Ketua Umum FORWAN, Sutrisno Buyil, menilai kontribusi tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar bantuan teknis.
“Apa yang dilakukan Mbak Nina mungkin terlihat sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia hadir dengan ketulusan, dan itu yang tidak bisa diukur dengan apa pun,” ujar Buyil.
Momentum paling mencerminkan kepedulian tersebut terjadi saat FORWAN menghadapi keterbatasan anggaran untuk menggelar kegiatan buka puasa bersama. Di tengah situasi itu, Nina mengambil langkah yang tidak biasa—memberikan dukungan penuh, bahkan membuka ruang pribadinya sebagai tempat berlangsungnya acara.
Langkah serupa kembali ia lakukan dalam kegiatan halal bihalal, dengan menyediakan lokasi di Humble Baker. Konsistensi ini menunjukkan bahwa kontribusi tidak selalu berbentuk besar secara materi, tetapi menjadi berarti karena hadir di waktu yang tepat.
Bagi FORWAN, kehadiran Nina menjadi pengingat bahwa kekuatan organisasi tidak hanya dibangun melalui struktur, program, atau agenda besar. Lebih dari itu, ia bertumpu pada nilai-nilai ketulusan, kepedulian, dan komitmen yang dijalankan secara nyata.
Dalam lanskap organisasi yang terus berkembang, peran-peran seperti inilah yang kerap menjadi fondasi, tetapi menentukan.//Kelana peterson
