Site icon Trijaya FM Palembang

Wall Street Melemah di Tengah Ketidakpastian Geopolitik dan Isu Suksesi The Fed; IHSG Turut Terkoreksi

Jakarta – Pasar saham global dan domestik menunjukkan tren pelemahan pada penutupan perdagangan Selasa (21/4/2026). Sentimen negatif yang bersumber dari ketegangan geopolitik Amerika Serikat (AS)-Iran dan ketidakpastian kebijakan moneter di AS menjadi pendorong utama koreksi pasar, meskipun data ekonomi domestik dan kinerja emiten menunjukkan pertumbuhan positif.

​Sentimen Global: Isu Geopolitik dan Drama Kursi The Fed

​Indeks-indeks saham utama di Wall Street ditutup kompak melemah. Investor mulai meragukan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran sebelum tenggat gencatan senjata berakhir. Kondisi ini diperparah dengan laporan penundaan kunjungan Wakil Presiden AS, JD Vance, untuk negosiasi di Iran akibat kurangnya komitmen dari pihak Teheran.

​Meski demikian, Presiden Donald Trump sempat meredam kepanikan pasca penutupan pasar dengan mengumumkan perpanjangan gencatan senjata hingga Iran menyampaikan proposal resmi. Namun, ancaman militer tetap membayangi jika batas waktu tersebut tidak terpenuhi.

​Dari sektor makroekonomi, AS sebenarnya mencatatkan lonjakan penjualan ritel sebesar 1,7% pada Maret (di atas ekspektasi 1,4%). Namun, penguatan data ini gagal menahan tekanan pasar karena kekhawatiran geopolitik jauh lebih mendominasi.

​Ketidakpastian juga muncul dari sisi kebijakan moneter. Proses konfirmasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve terhambat di Senat. Senator Thom Tillis mengancam akan memblokir konfirmasi tersebut hingga penyelidikan terhadap Ketua The Fed saat ini, Jerome Powell, dihentikan. Hal ini menambah beban spekulasi di pasar keuangan global mengenai arah suku bunga ke depan.

​Pasar Domestik: IHSG Melemah di Level 7.559

​Sejalan dengan pelemahan global, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 0,46% ke level 7.559,38. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp17,98 triliun, di bawah rata-rata harian Rp25,56 triliun. Menariknya, investor asing masih mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp473,88 miliar di tengah aksi jual masif sejak awal tahun yang mencapai Rp39 triliun. Di sisi lain, Rupiah menguat tipis ke level Rp17.144/USD.

​Highlights Ekonomi Nasional & Kebijakan

​Beberapa poin penting dari perkembangan ekonomi dalam negeri meliputi:

​Pertumbuhan Kredit: Kemenko Perekonomian melaporkan kredit nasional tumbuh 10,42% (yoy) pada Q1-2026, didorong sektor korporasi dan konsumsi.

​Kebijakan Pajak: Pemerintah berencana mengenakan PPN pada jasa jalan tol (Renstra 2025-2029) dan mulai menerapkan Pajak Kendaraan Bermotor untuk kendaraan listrik per 1 April 2026.

​Pasar Modal: MSCI kembali membekukan rebalancing konstituen saham Indonesia periode Mei 2026 guna mengevaluasi efektivitas reformasi pasar modal.

​Dana Kelolaan: BPJS Ketenagakerjaan mencatat pertumbuhan dana kelolaan 13,82% (yoy) menjadi Rp912,09 triliun pada Q1-2026.

​Kinerja Perusahaan (Corporate Updates)

​Sejumlah emiten melaporkan performa keuangan yang solid pada Kuartal I-2026:

​AUTO: Laba bersih naik 10,6% (yoy) menjadi Rp558,9 miliar.

​RISE: Mencatatkan lonjakan laba bersih signifikan sebesar 496% (yoy) menjadi Rp95,7 miliar.

​ADHI: Perolehan kontrak baru melonjak 131,5% (yoy) mencapai Rp4,72 triliun.

​PRDA: Memperluas ekspansi dengan meresmikan klinik layanan terapi stem cell pertama.

​ALII: Memperoleh fasilitas kredit Rp494,5 miliar dari Bank BRI untuk pengadaan armada dan pelunasan utang.