Site icon Trijaya FM Palembang

Eforia AI di Wall Street Beradu dengan Tensi Panas di Selat Hormuz

​Jakarta, 11 Mei 2026 – Pergerakan bursa saham global dan domestik sepanjang pekan pertama Mei 2026 diwarnai oleh kontradiksi antara optimisme pertumbuhan ekonomi yang didorong teknologi dengan meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah.

​Kinerja Pasar Global: Rekor Wall Street dan Ancaman Energi

​Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, menutup perdagangan Jumat (8/5) dengan catatan impresif. Indeks S&P 500 dan Nasdaq berhasil mencapai level tertinggi sepanjang masa, menandai tren penguatan selama enam minggu berturut-turut—pencapaian terpanjang sejak akhir 2024.

​Motor Pertumbuhan: Laba kuartal I-2026 pada S&P 500 diproyeksi melonjak 29% (yoy), dengan sektor berbasis Artificial Intelligence (AI) sebagai pendorong utama.

​Ketahanan Ekonomi: Data nonfarm payrolls April mencatatkan penambahan 115 ribu lapangan kerja (jauh di atas ekspektasi 55 ribu), sementara tingkat pengangguran stabil di angka 4,3%.

​Namun, optimisme ini dibayangi oleh eskalasi konflik antara AS dan Iran di Selat Hormuz. Pasca insiden baku tembak dan serangan terhadap kapal tanker, harga minyak WTI terkerek ke level USD95,42 per barel. Pasar kini mengantisipasi respons Iran terhadap proposal perdamaian AS, di tengah ancaman peningkatan militer melalui “Proyek Kebebasan Plus”.

​Pasar Domestik: IHSG Menguat di Tengah Tekanan Rupiah

​Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan ketangguhan dengan ditutup menguat 0,18% (wtd) ke posisi 6.969,40 pada akhir pekan lalu (8/5).

Meskipun asing mencatatkan aksi beli bersih yang signifikan dalam sepekan, nilai tukar Rupiah masih mengalami tekanan depresiasi seiring dengan ketidakpastian global dan penguatan dolar AS.

​Indikator Ekonomi Makro Indonesia

​Beberapa rilis data penting dari BPS, Bank Indonesia, dan Kemenkeu memberikan gambaran fundamental ekonomi nasional:

​Pertumbuhan Ekonomi: PDB kuartal I-2026 tumbuh solid di angka 5,61% (yoy), didominasi konsumsi rumah tangga (54,36%).

​Neraca Dagang & Cadangan Devisa: Surplus perdagangan berlanjut selama 71 bulan berturut-turut sebesar USD5,55 miliar pada Q1-2026. Namun, cadangan devisa April sedikit terkoreksi ke USD146,2 miliar.

​Inflasi & Manufaktur: Inflasi April terjaga di level 2,42% (yoy). Di sisi lain, sektor manufaktur (PMI) masuk ke zona kontraksi di level 49,1, dipicu penurunan volume produksi.

​Utang Pemerintah: Tercatat sebesar Rp9.920,4 triliun (40,75% terhadap PDB) per Maret 2026, naik dari posisi akhir tahun lalu.

​Investasi: Menjadi katalis positif dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 32% pada kuartal I-2026.