Site icon Trijaya FM Palembang

Di Usia 56 Tahun, Radio Camajaya FM Tetap Menjadi Ruang Literasi Publik di Tengah Gempuran Informasi Digital

Jakarta — Di tengah perubahan besar yang terjadi dalam dunia komunikasi dan informasi, Radio Camajaya 102,6 FM menunjukkan bahwa media radio masih memiliki ruang penting sebagai sarana edukasi dan literasi masyarakat.

Melalui program “Ngobrol Bareng Santai Sore Camajaya” yang disiarkan setiap Sabtu sore, radio yang telah mengudara selama 56 tahun itu terus menghadirkan dialog-dialog yang relevan dengan kebutuhan publik. Pada edisi Sabtu (20/6/2026), tema yang diangkat menyentuh persoalan yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, yakni hoaks, media sosial, dan profesionalisme wartawan.

Menghadirkan wartawan senior sekaligus anggota PWI Kota Depok, Musa Sanjaya, diskusi berlangsung hangat dan komunikatif. Dipandu penyiar senior Mas Kelik, berbagai persoalan yang kerap muncul di ruang digital dibahas dari sudut pandang jurnalistik dan literasi media.

Musa menjelaskan bahwa kehadiran media sosial telah membawa perubahan besar dalam cara masyarakat memperoleh informasi. Jika sebelumnya masyarakat mengandalkan media massa sebagai sumber utama berita, kini informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik melalui berbagai platform digital.

Meski demikian, kemudahan tersebut juga menghadirkan konsekuensi berupa meningkatnya potensi penyebaran informasi yang tidak benar.

“Kecepatan tidak selalu berbanding lurus dengan kebenaran. Karena itu masyarakat perlu membangun kebiasaan untuk memeriksa dan memverifikasi setiap informasi yang diterima,” ujarnya.

Menurut Musa, tantangan terbesar saat ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan bagaimana masyarakat mampu memilah informasi yang benar di tengah banjir konten digital.

Ia mencontohkan berbagai isu yang kerap menjadi bahan hoaks, mulai dari informasi bencana, kriminalitas, hingga isu sosial dan pemerintahan yang sering kali beredar tanpa sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam konteks tersebut, peran media massa dan wartawan profesional menjadi semakin penting. Jurnalisme yang mengedepankan verifikasi, keberimbangan, dan etika dinilai tetap menjadi salah satu benteng utama dalam menjaga kualitas informasi publik.

Musa juga menjelaskan bahwa profesi wartawan memiliki tanggung jawab yang tidak ringan. Selain menyampaikan fakta secara akurat, wartawan dituntut memahami kode etik jurnalistik dan bekerja sesuai standar profesional.

Karena itu, Uji Kompetensi Wartawan (UKW) menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang jurnalistik.

“UKW membantu memastikan wartawan memiliki kompetensi yang memadai, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan, maupun pemahaman terhadap etika profesi,” kata Musa.

Ketua PWI Kota Depok Rusdy Nurdiansyah mengapresiasi kolaborasi yang dibangun Radio Camajaya FM bersama PWI Depok. Ia berharap kegiatan edukatif seperti ini dapat menjadi sarana peningkatan literasi masyarakat sekaligus mendorong wartawan untuk terus meningkatkan profesionalismenya.

Bagi Radio Camajaya FM, program ini menjadi bagian dari komitmen panjang untuk tetap relevan di tengah perubahan zaman. Meski platform digital terus berkembang, radio dinilai masih memiliki keunggulan sebagai medium yang dekat dengan masyarakat dan mampu menghadirkan ruang dialog yang hangat serta edukatif.

Memasuki usia ke-56 tahun, Camajaya FM tidak hanya mempertahankan eksistensinya sebagai media penyiaran, tetapi juga terus berupaya mengambil peran dalam membangun masyarakat yang lebih kritis, cerdas, dan bijak dalam menghadapi derasnya arus informasi digital.//Kelana peterson