Jakarta – Semangat membangun pendidikan yang inklusif dan menghadirkan kesempatan yang setara bagi seluruh anak bangsa melatarbelakangi penyelenggaraan Lomba dan Pameran Fotografi Nasional “Sekolah Rakyat”. Ajang yang digagas Majalah Fotografi MATA, PT Basik, bersama Kementerian Sosial RI ini mengajak fotografer profesional, jurnalis foto, pegiat fotografi, mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat umum untuk mengabadikan berbagai potret kehidupan di Sekolah Rakyat.
Mengusung tema “Sekolah Rakyat: Menangkap Asa, Mengabadikan Perubahan”, kompetisi ini tidak sekadar mencari foto terbaik, tetapi juga menghadirkan narasi visual tentang perjuangan, harapan, dan transformasi pendidikan Indonesia.
Ketua panitia Fredy Kamto mengatakan persiapan lomba dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Meski demikian, respons dari komunitas fotografi dinilai sangat positif.
“Memang waktu dari pembukaan hingga batas akhir pengumpulan karya hanya sekitar lima hari. Namun kami optimistis antusiasme peserta akan tinggi. Melalui jaringan Asosiasi Fotografer Indonesia yang memiliki sekitar 800 anggota di berbagai daerah, sosialisasi dilakukan secara cepat sehingga kami yakin akan lahir karya-karya terbaik,” ujar Fredy.Selasa,(14/7/2026)
Menurut Fredy, panitia juga memberikan kebijakan khusus bagi peserta yang berada di wilayah yang belum memiliki Sekolah Rakyat.
“Kami memahami belum semua daerah memiliki Sekolah Rakyat. Karena itu peserta diperbolehkan memotret aktivitas di sekolah negeri atau sekolah umum lainnya. Yang paling penting adalah semangat pendidikan, proses belajar, dan harapan yang ingin disampaikan melalui karya fotografi,” katanya.
Lomba ini mempertandingkan empat kategori, yakni Foto Jurnalistik, Foto Human Interest, Foto Esai, dan Foto Kreatif. Seluruh karya akan dinilai berdasarkan kesesuaian tema, kekuatan cerita, orisinalitas, nilai jurnalistik, komposisi, teknik fotografi, dan dampak visual.
Fotografer senior Arbain Rambey yang didapuk sebagai dewan juri menegaskan bahwa fotografi memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan yang melampaui kata-kata.
“Kami tidak hanya mencari foto yang indah, tetapi foto yang mampu berbicara. Melalui seragam, aktivitas belajar, interaksi guru dan murid, hingga ekspresi anak-anak, kami ingin menangkap semangat mereka dalam menuntut ilmu. Kami ingin menunjukkan bahwa tidak ada keterbatasan yang mampu memadamkan mimpi anak-anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan yang layak,” ujar Arbain.
Ia menambahkan, kejujuran visual menjadi aspek penting dalam penilaian.
“Sebuah foto yang kuat adalah foto yang lahir dari momen nyata. Karena itu kami mengutamakan keaslian cerita, nilai kemanusiaan, dan kemampuan fotografer menangkap momen yang menginspirasi.”
Sementara itu, fotografer profesional Hendra Lesmana mengatakan setiap peserta memiliki kesempatan yang sama untuk menghadirkan karya terbaik.
“Jangan hanya mengejar foto yang indah secara teknis. Carilah cerita yang menyentuh. Pendidikan adalah tentang harapan, perjuangan, dan masa depan. Ketika emosi itu berhasil ditangkap dalam sebuah foto, maka karya tersebut akan memiliki nilai yang jauh lebih besar,” kata Hendra.
Menurutnya, melalui kompetisi ini masyarakat diajak melihat pendidikan dari sudut pandang yang lebih humanis.
“Kami berharap lahir karya-karya yang bukan hanya layak menjadi juara, tetapi juga menjadi arsip visual perjalanan pendidikan Indonesia.”
Lomba ini terbuka bagi seluruh warga negara Indonesia tanpa dipungut biaya pendaftaran. Setiap peserta dapat mengirimkan maksimal lima karya foto, kecuali kategori foto esai yang terdiri atas lima hingga sepuluh foto dalam satu rangkaian cerita.
Selain memperebutkan gelar Juara I, II, dan III di setiap kategori, panitia juga akan memilih 100 karya terbaik untuk dipamerkan dalam Pameran Fotografi Nasional “Sekolah Rakyat” di Galeri Cipta I, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pameran tersebut diharapkan menjadi ruang apresiasi bagi fotografer sekaligus menghadirkan pengalaman visual bagi masyarakat mengenai wajah pendidikan Indonesia.
Pendaftaran dibuka pada 13–17 Juli 2026, dengan batas akhir pengiriman karya pada 17 Juli 2026 pukul 17.00 WIB. Pengumuman pemenang dijadwalkan berlangsung pada 19 Juli 2026, sementara karya-karya terbaik akan dipamerkan sesuai jadwal yang ditetapkan panitia.
Melalui lomba ini, penyelenggara berharap semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap dunia pendidikan. Sebab, setiap foto bukan hanya merekam sebuah peristiwa, tetapi juga menjadi saksi perjalanan harapan, semangat, dan perubahan menuju masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik.
//Kelana peterson
