Jakarta — Dominasi film horor di bioskop Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan besarnya minat pasar terhadap genre tersebut. Namun, pertumbuhan secara kuantitas menghadirkan pertanyaan lain mengenai kualitas dan identitas: apakah sinema horor Indonesia telah menggali kekayaan budayanya atau masih bertumpu pada formula komersial berupa eksploitasi sosok hantu?
Persoalan tersebut menjadi tema utama Pekan Diskusi Film Indonesia edisi ke-8 bertajuk “Horor Mencari Jalan Pulang: Napak Tilas Identitas Sinema Horor Indonesia” yang berlangsung di PFN Heritage, Jalan Otista, Jakarta Timur, Kamis (13/8/2026).
Forum yang merupakan bagian dari Kreatif Merdeka Carnival 2026 itu mempertemukan sejumlah pelaku industri film, antara lain aktor dan pengamat seni Eddi Karsito, sutradara Wahyu Nugroho, serta sutradara dan produser senior Haris Cinnamon. Diskusi dipandu Karina Icha, S.H.
Eddi Karsito menempatkan persoalan disiplin sebagai salah satu faktor penting dalam membangun industri film nasional yang lebih kompetitif.
Sebelum menyampaikan pandangannya, Eddi mengucapkan terima kasih kepada panitia dan penyelenggara serta menyampaikan rasa syukur karena dapat menjadi bagian dari forum tersebut.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberi kesempatan menjadi bagian dari acara ini,” ujar Eddi.
Aktor yang telah berkiprah selama sekitar 25 tahun di dunia film tersebut mengungkapkan pernah membintangi sejumlah film horor, termasuk Pocong 1.
Menurut Eddi, pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan dirinya dihadirkan dalam diskusi yang membahas perkembangan sinema horor Indonesia.
Ketika ditanya mengenai upaya agar film Indonesia mampu menembus pasar internasional, Eddi menekankan pentingnya profesionalisme dan kedisiplinan.
“Bagaimana supaya film Indonesia go international? Harus disiplin. Semua insan film harus disiplin dalam menjalankan sebuah produksi,” katanya.
Bagi Eddi, forum diskusi publik juga memiliki posisi penting sebagai ruang untuk mengevaluasi persoalan industri secara objektif.
“Film kita kerap terasa jalan di tempat karena kita kurang disiplin. Ruang diskusi seperti ini adalah ruang ilmiah untuk membedah masalah secara substantif,” ujarnya.
Sutradara Wahyu Nugroho melihat kekuatan film horor Indonesia justru terdapat pada kekayaan budaya lokal. Ia menyebut tradisi, misteri, dan religi sebagai tiga fondasi yang dapat menjadi sumber pengembangan cerita.
“Film horor sejatinya berdiri di atas tiga pilar utama: tradisi, misteri, dan religi,” kata Wahyu.
Namun, ia mengingatkan adanya kecenderungan sebagian karya untuk lebih menonjolkan bentuk hantu daripada mengembangkan karakter dan persoalan psikologis manusia.
Menurut Wahyu, tantangan tersebut semakin kompleks ketika sineas harus membuat karya yang relevan bagi generasi Z tanpa kehilangan identitas budaya.
Go International Tak Cukup dengan Jargon
Sementara itu, Haris Cinnamon mengingatkan bahwa pembicaraan mengenai pasar internasional perlu ditempatkan secara lebih proporsional.
Menurut dia, industri film horor Indonesia masih membutuhkan penguatan secara terstruktur agar dapat bersaing berdasarkan kualitas karya, bukan semata-mata karena fenomena pasar.
“Bicara soal internasional, kita belum sepenuhnya sampai ke sana secara substantif. Karya yang kuat lahir dari ketulusan dan kecerdasan intelektual sineasnya dalam memilih serta memilah konsep,” kata Haris.
Ia menilai keberhasilan film horor Indonesia di tingkat global akan sangat bergantung pada kualitas gagasan, riset, penulisan, produksi, serta keberanian sineas keluar dari formula instan.
Indonesia memiliki kekayaan tradisi, mitologi, misteri, dan nilai religius sebagai sumber cerita. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut diterjemahkan menjadi karya sinematik yang kuat secara naratif sekaligus mampu dipahami penonton lintas budaya.
Dengan demikian, jalan pulang sinema horor Indonesia bukan sekadar kembali menghadirkan hantu lokal, tetapi kembali kepada akar kebudayaan sambil mengembangkan bahasa sinema yang memiliki daya saing global.// Kelana peterson
