Jakarta – Suasana penuh seni, musik dan kebersamaan terasa dalam pagelaran “Untuk Indonesia” di Deheng House, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2026).
Digagas Guruh Sukarno Putra, acara tersebut menghadirkan berbagai pertunjukan seni dan budaya. Tidak hanya menjadi panggung hiburan, “Untuk Indonesia” juga menjadi momentum peluncuran Gema Indonesia serta penggalangan dana untuk anak-anak penyintas kanker.
Acara dibuka dengan lagu Indonesia Raya yang dipimpin paduan suara. Nuansa budaya kemudian hadir melalui Kidung Bali yang dibawakan I Ketut Gunawan bersama parade.
Sejumlah pertunjukan lainnya ikut memeriahkan acara, termasuk Tari Gandrung dan Tari Dari oleh Kinaya GSP. Empat gadis sampul juga tampil bersama Simphoni Raya dan Melati Suci.
Di tengah rangkaian acara, Guruh Sukarno Putra menyampaikan pesan tentang bagaimana seharusnya masyarakat mencintai Indonesia.
“Kenapa cinta Indonesia? Cinta itu nggak harus misteri. Cinta, semua cinta pemandangan kita, semua cinta negeri kita, tanah air kita,” kata Guruh.
Bagi Guruh, cinta terhadap Indonesia tidak cukup jika seseorang masih menempatkan dirinya sebagai pusat perhatian.
“Seberapa cinta kalau diri saya nomor satu, diutamakan dan dikedepankan?” ujarnya. Guruh mengaku emosional ketika melihat kehidupan masyarakat Indonesia.
“Lihat anak-anak Indonesia, lihat anak Indonesia, petani, nelayan dan lain-lain, saya menangis,” tuturnya.
Ia juga menyoroti pentingnya mengenalkan kembali budaya Indonesia kepada generasi muda.
“Saya menyadari begitu banyak anak Indonesia tidak mengenal Indonesia, budaya Indonesia. Kita perlu sadari bersama,” ujar Guruh.
Semangat tersebut terasa dalam sesi charity dan lelang. Sejumlah karya yang dilelang berupa songket Sumatera, batik dan berbagai karya lainnya.
Dari lelang tersebut, terkumpul dana kurang lebih Rp200 juta.
Tak hanya serius dengan pesan sosial, acara juga berlangsung hangat dan penuh kegembiraan. Para tamu undangan ikut bernyanyi ketika Marcell Siahaan tampil membawakan empat lagu nostalgia.
Penampilan Marcell menjadi salah satu momen yang membuat suasana semakin cair. Para tamu menikmati musik sambil mengikuti rangkaian acara hingga sesi penutupan.
“Untuk Indonesia” akhirnya menjadi pertemuan antara seni, musik, budaya dan aksi sosial. Lebih dari sekadar pagelaran, acara ini membawa pesan agar kecintaan terhadap Indonesia juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap masyarakat dan keberlangsungan budaya bangsa.// Kelana peterson
