Site icon Trijaya FM Palembang

Kembangkan Limbah Sabut Kelapa, Nasabah PNM Mekaar Nyalakan Masa Depan Anak-Anak Putus Sekolah 

Jakarta,  – Bagi Iga Analusya, bergabung dengan PNM Mekaar bukan cuma soal mendapat modal usaha. Perempuan berusia 32 tahun asal pesisir Padang ini menemukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pinjaman, yaitu ruang untuk belajar, berinovasi, dan memberdayakan lingkungan sekitarnya lewat usaha kerajinan Farilla Craft.(18/9/26)

Farilla Craft lahir dari kejelian Iga melihat peluang di tempat yang sering diabaikan orang lain. Ia mengolah limbah sabut kelapa yang menumpuk di sekitar pesisir tempat tinggalnya menjadi produk kerajinan tangan bernilai jual tinggi, mulai dari tas, dompet, hingga pot dan dekorasi bernuansa natural. Gagasan ini bermula dari pelatihan pengolahan sabut kelapa yang ia ikuti pada 2021, saat sejumlah narasumber didatangkan untuk membekali warga pesisir dengan keterampilan baru.

“Kita lihat limbah sabut kelapa itu tidak dimanfaatkan, padahal potensinya besar,” ujar Iga, mengenang awal mula usahanya bersama sang suami yang berperan sebagai desainer produk.

Usaha itu sudah berjalan sebelum Iga menikah, namun baru benar-benar berkembang setelah ia bergabung dengan PNM Mekaar pada akhir 2023. Modal awal sebesar Rp3.000.000 ia gunakan untuk membeli bahan baku, sehingga produksi tak lagi bergantung pada pesanan yang datang lebih dulu. Kini plafon pinjamannya telah berkembang menjadi Rp8.500.000, sejalan dengan skala usaha yang terus tumbuh.

Kini Farilla Craft mampu memproduksi hingga 100 pinsil dalam sekali produksi, dengan waktu pengerjaan sekitar tiga minggu untuk pesanan dalam jumlah besar seperti dari instansi pemerintah. Usaha ini juga menggerakkan roda ekonomi warga sekitar, dengan melibatkan 15 hingga 20 orang pengrajin yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga di lingkungan pesisir tempat Iga tinggal.

Namun bagi Iga, pencapaian yang lebih berarti datang dari sisi lain PNM yang jarang disadari nasabah, yaitu pemberdayaan lewat pelatihan dan pendampingan. Keikutsertaannya dalam program Mekaarpreneur 2026, yang mengantarkannya masuk 120 besar, membuka wawasannya tentang pengelolaan usaha berbasis teknologi hingga strategi promosi di media sosial.

“Kalau jadi orang biasa mungkin PNM itu ya cuma untuk pinjaman saja. Tapi setelah kita ada di dalamnya, kita jadi lihat ada hal lain yang jauh lebih bermanfaat,” kata Iga.

Wawasan itu pula yang mendorongnya terus berinovasi menyesuaikan produk dengan selera pasar generasi muda, tanpa meninggalkan sentuhan tradisional yang menjadi ciri khas Farilla Craft. Iga menyebut kunjungan mahasiswa untuk studi banding ke tempat usahanya turut memberi inspirasi baru dalam mengemas produk secara lebih modern dan eksklusif.

Direktur Utama PNM, Kindaris, mendorong ibu-ibu nasabah PNM Mekaar untuk jeli melihat peluang usaha dari hal sekecil apapun.

“Ibu Iga adalah contoh nyata bahwa modal hanyalah awal, tapi ketekunan dan kerja keras yang diiringi dengan pendampingan mampu membawa manfaat yang lebih luas dan menggerakkan orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan,” kata Kindaris.

Iga berprinsip bahwa pemanfaatan modal benar-benar direncanakan sejak awal. Ia selalu mencatat rencana penggunaan modal dari PNM sebelum pencairan, sehingga modal yang didapat langsung terarah untuk kebutuhan produksi dan tidak berujung pada pengeluaran konsumtif.

Ke depan, Iga berharap dapat memperluas galeri usahanya sekaligus merangkul lebih banyak anak putus sekolah dan ibu rumah tangga di sekitar pesisir Padang untuk turut berkarya bersama Farilla Craft.

Mengusung hastag #PNMuntukUMKM dan #PNMPemberdayaanUMKM Program ini merupakan kelanjutan dari inisiatif serupa tahun lalu bertajuk #CariTauLangkahBaru demi memperluas dampak dan membina nasabah unggulan agar semakin berkembang.