Palembang — Penyakit Jantung Bawaan (PJB) hingga saat ini masih menjadi salah satu tantangan kesehatan anak yang signifikan di Indonesia. Tingginya angka keterlambatan diagnosis serta pemahaman masyarakat yang masih terbatas mengenai pentingnya nutrisi bagi anak dengan PJB berdampak langsung terhadap tumbuh kembang dan luaran klinis pasien.
Menjawab persoalan tersebut, Unit Kerja Koordinasi (UKK) Kardiologi bersama UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menggelar sesi ilmiah khusus dalam rangkaian Pekan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-14 IDAI Tahun 2026. Acara ini dilangsungkan di Ruang Diplomat, Hotel Novotel Palembang.
Pada kesempatan ini diadakan juga Peluncuran buku “Asuhan Nutrisi Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan”
Sinergi Kardiologi dan Nutrisi untuk Tumbuh Kembang Anak
Diskusi ilmiah yang dihadiri oleh para tenaga kesehatan ini mengupas tuntas pentingnya pendekatan holistik—yakni kombinasi antara deteksi dini kardiologi anak dan tata laksana nutrisi yang optimal.
Sesi ini menghadirkan para pakar terkemuka di bidang kesehatan anak sebagai narasumber:
Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio.(K) selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI).
Dr. Rizky Adriansyah, M.Ked (Ped), Sp.A, Subsp.Kardio.(K) selaku Ketua UKK Kardiologi IDAI.
Dr. Yoga Devaera, Sp.A, Subsp.NPM(K) selaku Ketua UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI.
Jalannya diskusi dipandu oleh Prof. dr. Indah Kartika Murni, M.Kes, Sp.A, Subsp.Kardio(K), Ph.D dari UKK Kardiologi IDAI selaku moderator.
Urgensi Intervensi Gizi dan Diagnosis Dini
Dalam pemaparannya, para narasumber menekankan bahwa anak dengan PJB seringkali mengalami masalah asupan dan metabolisme energi yang berujung pada gangguan pertumbuhan (gizi kurang atau gizi buruk). Oleh karena itu, pendekatan nutrisi yang disesuaikan dengan kondisi hemodinamik jantung sangat krusial untuk mempersiapkan anak menghadapi intervensi lanjutan, baik intervensi kateter maupun bedah jantung.
Melalui forum ilmiah ini, IDAI berharap para tenaga kesehatan di berbagai daerah, khususnya di Sumatera Selatan dan sekitarnya, dapat meningkatkan kewaspadaan klinis terhadap gejala PJB sejak dini serta mengaplikasikan panduan tata laksana gizi yang komprehensif demi masa depan anak Indonesia yang lebih baik.(Ly)
