
Kebanyakan daging tersebut dipasok dari rumah potong hewan (RPH) Gandus, Palembang. Sementara sisanya didatangkan dari provinsi lain, seperti Lampung. Meski begitu, Amruzi menegaskan pihaknya akan mengupayakan agar kebutuhan daging sapi dapat terpenuhi dengan baik.
“Sumsel menjadi pilot project program nasional sentra peternakan rakyat (SPR). Tahap awal sudah berjalan di tiga kabupaten, yakni Sembawa (Banyuasin), Ogan Komering Ilir, dan Musi Banyuasin. Ke depannya, kami coba kurangi pasokan luar provinsi dan lebih mengoptimalkan suplai dari daerah sendiri, khususnya Sembawa,” ujarnya.
Menurutnya, tingginya harga daging di pasaran disebabkan sejumlah faktor, yakni keluarnya kebijakan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10 persen terhadap sapi-sapi impor, kuota impor yang dikurangi oleh pemerintah pusat, serta kenaikan harga pakan ternak.
“Harga pakan ini juga berpengaruh. Faktor yang paling menentukan naiknya harga daging sapi yakni pasokan dalam negeri atau sapi lokal yang tak sebanding dengan kebutuhan,” ujarnya.
Dikatakan, daging sapi yang dipasok rumah potong hewan (RPH) di Gandus sekitar 30 ekor sapi per hari. “Namun belakangan, RPH Gandus hanya memotong 7-8 ekor sapi saja, karena stoknya yang memang berkurang,” ujarnya.#idz