
Menurut Nasyid, jika hasil cetak sawah itu gagal, namun tidak ada laporan disampaikan kepada DPR, berapa areal yang gagal, berapa areal yang berhasil dan berapa areal yang belum berjalan. Dengan laporan tersebut dapat dijadikan bahan evaluasi ke depan. Terlebih lagi tahun 2018 ini Kementerian Pertanian telah mengusulkan akan membuat program cetak sawah baru lagi seluas 12 ribu hektar. “Laporan dan evaluasi itu tentu sangat dibutuhkan, demi perbaikan dan kepentingan bersama,” tuturnya.
Hal senada diungkapkan Asep Maosul yang menyebutkan, selama ini tidak terdengar keberhasilan atau kegagalan dari program Kementerian Pertanian tersebut. Berbeda ketika jaman pemerintahan presiden kedua Indonesia Soeharto yang melakukan cetak sawah dan dibuktikan dengan program swasembada berasnya. “Saat ini masyarakat lebih melihat banyaknya sawah yang berganti pemukiman. Sementara program cetak sawah baru untuk menambah atau meningkatkan produksi beras malah tidak terdengar gaungnya,” paparnya. #duk