Pergerakan bursa saham global sepekan dipengaruhi beberapa sentimen, antara lain:
* *Pada pekan lalu, bursa saham Wall Street bergerak bervariasi dan cenderung menguat pada akhir pekan karena didorong oleh pergerakan saham-saham teknologi*. Indeks Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 mencatat rekor penutupan tertinggi pada hari Jumat (18/10). Nasdaq juga berada di wilayah positif, karena pasar didorong oleh lonjakan laba yang didorong saham Netflix dan keuntungan yang lebih luas di seluruh saham teknologi. Ketiga indeks yang menjadi tolok ukur utama Wall Street mencatatkan keuntungan mingguan keenam berturut-turut, kenaikan mingguan terpanjang sejak akhir 2023.
* *Saham-saham teknologi Magnificent Seven mendorong sebagian besar reli Wall Street tahun ini, naik. Harga saham Apple pada hari Jumat naik 1,2% setelah data menunjukkan peningkatan tajam dalam penjualan iPhone baru di China*. Sementara, perusahaan chip Nvidia naik 0,8% setelah BofA Global Research menaikkan target harga sahamnya. Peningkatan Netflix juga mengangkat sektor layanan komunikasi 0,9%, menjadikannya peraih keuntungan terbesar di antara 11 sektor S&P 500. dengan kenaikan 0,5%.
* *Dari pasar komoditas, minyak mentah anjlok pada hari Jumat dan turun lebih dari 7% dalam seminggu. Penurunan harga disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi China dan prospek konflik Timur Tengah yang beragam*. Harga minyak mentah West Texas Intermediate AS ditutup pada USD69,22 per barel, turun 2,05% (dtd) pada Jumat. Dalam sepekan, harga minyak WTI merosot 8,39%. Ekoomi China sebagai negara importir minyak terbesar dunia tumbuh pada laju paling lambat sejak awal 2023 pada kuartal III.
* *Sementara itu, harga emas mencatatkan rekor tertinggi dengan menyentuh USD2.700 per ons pada hari Jumat (18/10). Kenaikan harga emas didorong oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, ketidakpastian seputar pemilihan umum AS, dan ekspektasi kebijakan moneter yang longgar*. Emas dianggap menjadi aset safe haven di tengah eskalasi peran antara Israel dan Hamash serta Hezbullah. Emas memecahkan rekor beberapa kali pada tahun ini karena ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed.
*Domestic Highlights*
* *Perkembangan dari pasar saham domestik pada akhir pekan lalu (18/10) menunjukkan IHSG ditutup menguat sebesar 3,18% (wow) ke posisi 7.760,06 dari penutupan pekan sebelumnya (11/10) pada level 7.520,60*. Rata-rata nilai transaksi harian sepanjang pekan lalu turun dibandingkan pekan sebelumnya, yakni menjadi Rp10,92 triliun dari sebelumnya Rp11,08 triliun. Dengan demikian, *rata-rata nilai transaksi harian sejak awal tahun senilai Rp12,94 triliun*. Sementara itu, sepanjang pekan lalu investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp1,22 triliun. *Secara akumulatif, investor asing membukukan net buy senilai Rp44,52 triliun sejak awal tahun*. Rupiah berdasarkan kurs Bloomberg terapresiasi ke level Rp15.465/USD dari sebelumnya sebesar Rp15.580/USD. Adapun sektor technology, consumer non-cyclicals, dan basic materials mencatatkan kenaikan paling besar pada tren penguatan IHSG sepanjang pekan lalu.
*Beberapa informasi ekonomi penting selama sepekan kemarin* antara lain:
* *BI tetap mempertahankan suku bunga di level 6,00% untuk Oktober 2024*. Dengan demikian, suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 5,25% dan suku bunga Lending Facility juga tetap di level 6,75%.
* *BI: Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tercatat naik 7,3% (yoy) menjadi USD425,1 miliar pada Agustus 2024*. Adapun ULN pemerintah tercatat naik 4,6% (yoy) menjadi USD200,4 miliar pada periode yang sama.
* *BPS melaporkan neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar USD3,26 miliar pada September 2024. Surplus ini kemudian menambah catatan neraca perdagangan yang positif selama 53 bulan berturut-turut sejak Mei 2020*.
* *Kementerian Investasi: Realisasi investasi pada kuartal III-2024 naik 15,3% (yoy) menjadi Rp431,5 triliun*. Investasi ini terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp232,7 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp198,8 triliun.
* *OJK: Aset industri keuangan nonbank tumbuh 6,36% (yoy) menjadi Rp2.688 triliun per Agustus 2024*. Adapun aset terbesar berasal dari industri asuransi yang mencapai Rp1.132 triliun dan dana pensiun sebesar Rp1.485 triliun.
* *Bank Indonesia dan Bank of Japan telah menyepakati kerja sama Bilateral Swap Agreement (BSA) yang berlaku dari 14 Oktober 2024 hingga 13 Oktober 2027*. Kerja sama ini diharapkan dapat menyediakan jaring pengaman yang berkontribusi pada stabilitas keuangan kedua negara.
* *BI: Transaksi Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) meningkat 209,61% (yoy) pada triwulan III-2024*. Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan jumlah pengguna dan merchant yang masing-masing mencapai 53,3 juta dan 34,23 juta.
