- December 2, 2022
- Posted by: Eko Adjis
- Category: Berita
Palembang – Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) berinisiatif menerapkan infrastruktur hijau atau green infrastruktur dalam berbagai kegiatan pembangunan hingga menciptakan kawasan permukiman.
Tema ini yang menjadi pembahasan dalam perayaan hari bakti Pekerjaan Umum (hari bakti PU) tahun 2022 di Sumsel. Dalam acara diskusi bersama dengan mengundang kedinasan PU, asosiasi pengembang, perbankan, instansi swasta lainnya, dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Sumsel berbagi pengetahuan bagaimana green infrastruktur bisa diterapkan di Sumsel.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Sumsel, Basyaruddin menjelaskan pada peringatan hari bakti tahun ini, pihaknya ingin mengajak berbagai elemen agar berkolaborasi menciptakan green infrastruktur guna menciptakan kawasan ramah lingkungan.
“Sesi diskusinya bagaimana kita bisa berpikir global dengan penerapan di daerah. Berkolaborasi bersama, misalnya, PU saat ini bertemu PT Semen Indonesia Group ingin menindaklanjuti menciptakan kawasan ramah lingkungan di Sumsel,” terangnya kepada awak media.
Untuk green infrastruktur sendiri, Sumsel sebenarnya sudah menerapkan misalnya memperkenalkan teknologi beton. Aplikatif teknologi ini pun sudah teruji di kawasan Jakabaring Sport City.
“Pertemuan ini, jangan saya sendiri dapat pengetahuan. Karena itu mengundang banyak elemen. Di Sumsel sendiri, green infrastruktur sudah ada namanya teknologi ramah lingkungan dan banjir,” terangnya.
Teknologi beton ramah lingkungan dan tahan banjir ini pun sebenarnya bisa dipakai di sejumlah kawasan publik di kota-kota besar di Sumsel, seperti Palembang, Pagar Alam, Prabumulih dan Lubuklinggau.
“Ada yang menarik dari teknologi beton poros, dekoratif, sudah pakai di Jakabaring. Itu menarik untuk kawasan publik, seperti stadion GBK, juga sudah pakai. Bisa juga dicontoh di Palembang, misalnya di pendesterian juga kawasan pemukiman,” ujar Basyaruddin.
PU juga mengundang banyak elemen pada peringatan hari bakti tahun ini. Misalnya untuk bank-bank penyalur pembiayaan juga didorong agar menerapkan kebijakan pro green infrastruktur, baik dalam pembiayaan rumah atau program hibah perbaikan perumahan.
“Karena bank penyalur, ada kaitan dengan pendanaan infrastruktur dengan skema pembiayaan. Ini juga menjadi komitmen bersama menciptakan kawasan ramah lingkungan,” papar Basyaruddin.
“Ini langkah awal banyak menciptakan perumahan, selain ramah lingkungan, tahan api dan tahan gempa, juga menjadi perumahan green fortable housing yang meminalisir pembiayaannya,” ujarnya.
Dengan konsep dengan demikian, kawasan perumahan akan semakin mudah terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, atau berpenghasilan tidak tetap.
“Bagaimana menciptakan perumahan mengandalkan tenaga listrik matahari (solar sel), sangat hemat. Kendaraannya nanti memanfaatkan tenaga listrik, akan lebih hemat. Tentu akan lebih mudah terjangkau oleh masyarakat dengan profesi tukang ojek, buruh, pekerja lepas. Karena akan lebih hemat dan ekonomis. Di Palembang sudah ada pilot projek perumahan demikian sudah ada di Gandus,” ujarnya.
Dengan teknologi ramah lingkungan, masyarakat juga mampu lebih bedaya. Konsep ini juga sesuai dengan apa yang disampaikan PT. Semen Indonesia Group.
Dalam kesempatan yang sama, CFA Business & Marketing Director PT SIG, Aulia Oemar menerangkan bagaimana menciptakan kota yang menghindari masyarakatnya menjadi stres.
“Sebagai produsen semen terbesar di Asia Tenggara, kita pun sudah bertahap mendorong pembangunan berkelanjutan (sustainable) produk. Indonesia kaya dengan potensi (teknologi ramah lingkungan) itu, dan Semen Indonesia Group berusaha meng-aplikasikannya sebagai sumbangsih pada negeri,” terangnya.
Di PT Semen Indonesia Group juga telah menerapkan sejumlah teknologi sebagai industri berkelanjutan (ramah lingkungan). Perusahaan pun mendorong menciptakan kota-kota ramah, dengan pembangunan kawasan ramah lingkungan.
“Misalnya pembangunan pori-pori kota, pembangunan kawasan pejalan kaki, taman. Teknologi tinggi, hingga pengerjaan hanya hitungan jam, agar dapat mengurangi kemacetan, polusi. Lalu menciptakan produk semen dengan kandungan karbon yang terus ditekan (minimal kurang 500 kl/ton) sampai mengurangi operasional bersumber dari energi batu bara dengan energi berasal dari sampah,” terangnya.
Perwakilan perbankan di Sumsel, Bank Mandiri juga menyampaikan pencapaian dalam pembangunan kawasan permukiman sekaligus pembiayaan yang mendorong pengembang memiliki mindset mengenai green infrastruktur, menciptakan kawasan ramah lingkungan.(Ly)
