- January 13, 2024
- Posted by: Eko Adjis
- Category: Berita
Jakarta – Budayawan Bre Redana mengeluarkan kritik tajam terhadap maraknya survey Pilpres dalam Diskusi Kebudayaan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta,Rabu (10/01/2024). Ia menegaskan bahwa kekuasaan tidak dapat diukur oleh survey, melainkan ditentukan oleh mandat langit, dengan mempertimbangkan tanda-tanda hilangnya mandat tersebut.
Diskusi yang dipandu oleh dramawan Amien Kamil menghadirkan puluhan seniman, sastrawan, perupa, dan intelektual, termasuk Romo Mudji Sutrisno, Mohammad Nasir, Butet Kartaradjasa, dan lainnya. Bre Redana, bersama Taufik Razen dan Arahmaiani, menyampaikan gugatan terhadap kondisi sosial politik, sambil menyoroti ketidakseimbangan kekuasaan negara yang berdampak pada pembangunan peradaban.
Bre Redana mengecam kurangnya program penguatan literasi dari calon presiden, mengkritik program makan siang gratis sebagai hal yang tidak berarti bagi peradaban. Taufik Razen menyoroti hilangnya keseimbangan kekuasaan negara yang seharusnya membentuk peradaban melalui harmoni antara jagat besar dan jagat kecil.
Arahmaiani, yang pernah dipenjara pada masa Orde Baru, menyimpulkan bahwa budayawan tidak perlu mengandalkan penguasa dalam membangun peradaban. Jurnalis senior Muhammad Nasir mengkritik arah peradaban yang menjauh dari cita-cita awal bangsa, khususnya terkait pelestarian kebudayaan lokal.
Seniman-politikus Deddy Gumelar alias Miing Bagito, mengekspresikan kekecewaannya pada kurangnya pembahasan tentang peran budayawan dalam situasi politik masa kini, menyoroti kebanyakan pembicaraan tentang peran masa lalu. Diskusi ini mencerminkan beragam pandangan dari lintas generasi terhadap tantangan dan aspirasi dalam membangun peradaban dan budaya bangsa.//Kelana Peterson
