- February 3, 2024
- Posted by: Eko Adjis
- Category: Berita
Menurut Yosep Adi Prasetyo, ahli hukum pers,dalam Talkshow: dengan tema “Peluang & Tantangan Industri Media Digital di Indonesia”, yang berlangsung di Area Lobi 3 Media Indonesia Jl. Pilar Mas Raya Kav. A-D, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta 11520,Jumat, 2 Februari 2024 , mengatakan ada pelajaran yang bisa diambil dari transformasi Financial Times di Inggris yang membedakan konten berdasarkan klasifikasi seperti emerald, gold, dan silver, memberikan keunikan pada setiap segmen.
Prasetyo melihat masa depan jurnalisme menuju sisi yang tersegmentasi, memberikan konten yang komprehensif dan berfungsi sebagai clearing house untuk membersihkan informasi di media sosial.
Penting untuk media berubah agar tidak tergantung pada tren Google dan Meta, dan Prasetyo menekankan perlunya dukungan pemerintah untuk melindungi dan memastikan keberlangsungan pers sebagai bagian dari demokrasi.
Pada kesempatan ini Janoe Arijanto, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia, menyoroti ketergantungan pada platform raksasa yang dapat menggerus idealisme media. Perhatian yang hanya pada tren dapat mengakibatkan kesamaan berita tanpa karakter yang kuat.
Dalam transformasi, Media Indonesia meluncurkan wajah baru mediaindonesia.com, tetap mempertahankan koran cetak sambil serius mengadopsi digitalisasi. Gaudensius Suhardi, Direktur Utama Media Indonesia, menegaskan bahwa sementara platform bisa berubah, jurnalisme yang membela yang lemah dan mencubit yang berkuasa akan tetap menjadi fokus utama.
Mereka menekankan keberpihakan kepada kebenaran dan kepercayaan pembaca sebagai landasan. Transformasi mediaindonesia.com memperkuat sisi jurnalisme dengan pendekatan yang lebih kekinian tanpa mengorbankan substansi dan kebenaran berita.
//Kelana Peterson.
