AIESEC in Unsri : Inovasi Pembelajaran untuk Anak-Anak dengan Berbagai Latar Belakang

AIESEC in Universitas Sriwijaya (Unsri) berhasil melaksanakan Offline Session Seruni 3.0, bagian dari proyek komunitas yang mendukung Sustainable Development Goal (SDG) 4: Pendidikan Berkualitas. Dengan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics), kegiatan ini menghadirkan pembelajaran inovatif dan menyenangkan untuk anak-anak di Palembang.

Setiap lokasi dalam program ini menerapkan metode pembelajaran yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan dan karakteristik anak-anak. Terdapat 3 lokasi mengajar dalam project ini, antara lain : Panti Asuhan Nur Asiyah, Sekolah Quran Preneur Indonesia, dan SD Negeri 30 Palembang.

Di Panti Asuhan Nur Asiyah, diadakan kegiatan bermain plastisin dengan tema yang beragam, seperti alam, musim, dan elemen lingkungan lainnya. Aktivitas ini bertujuan untuk mengembangkan kreativitas, motorik halus, dan pemahaman anak-anak tentang keindahan alam. Anak-anak diajak membuat bentuk-bentuk seperti pohon, salju, bunga, dan binatang, sambil berdiskusi tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Lalu, kegiatan mengajar yang dilaksanakan di Sekolah Quran Preneur Indonesia dengan menggunakan kurikulum yang dirancang oleh para peserta Seruni 3.0 dengan pendekatan STEAM. Anak-anak sekolah dasar diajak untuk belajar dengan asik dan melakukan eksperimen yang nyata selama proses pembelajaran. Tujuannya adalah untuk menanamkan pola pikir inovatif dan mandiri sejak dini.

Sementara itu, di SD Negeri 30 Palembang, pembelajaran dilakukan dengan menggunakan konsep inklusif yang menyesuaikan kemampuan anak-anak ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Aktivitas seperti permainan interaktif, eksperimen sederhana, dan seni kreatif dirancang untuk merangsang perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Peserta Seruni 3.0 memastikan semua anak dapat berpartisipasi aktif dengan pendekatan personal yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Peserta Seruni 3.0 berperan aktif dalam merancang dan menerapkan kurikulum pembelajaran di lokasi masing-masing. Hal ini tidak hanya memberikan pengalaman langsung kepada relawan dalam mengelola pendidikan, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang kolaboratif dan penuh makna.

Melalui metode pembelajaran interaktif ini, anak-anak mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan bermakna. Kreativitas mereka terasah, keterampilan motorik meningkat, dan rasa percaya diri tumbuh. Bagi para relawan, program ini menjadi wadah untuk belajar tentang kepemimpinan, empati, dan inovasi dalam pendidikan. (Felicia Amberly)



Leave a Reply