Menpora Hentikan Kompetisi ISC

3Jakarta, BP-Kemenpora RI segera merespons terkait insiden kerusuhan suporter yang terjadi di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SGUBK) Jakarta. Kerusuhan pecah saat laga Persija Jakarta menjamu Sriwijaya FC (SFC), pada laga lanjutan Indonesian Soccer Championship (ISC), Jumat (24/6) malam.
Laga kedua tim itu pun terpaksa dihentikan pada menit ke-81 karena ada suporter Persija yang menerobos masuk ke dalam lapangan. Oleh karena itu, petugas kepolisian menembakkan beberapa kali gas air mata ke arah suporter yang bertindak anarkis.
Namun, para suporter tidak terima dengan tembakan gas air mata itu. Mereka membalasnya dengan melempar petasan, benda-benda tumpul, dan lainnya. Bahkan kerusuhan meluas hingga ke luar stadion yang membuat sejumlah fasilitas stadion rusak.
Berdasarkan rilis resmi Kemenpora RI, pihaknya mempertimbangkan untuk menghentikan sementara gelaran ISC sambil menunggu pembahasan antara PT Gelora Trisula Semesta (GTS) selaku operator ISC, Kepolisian RI, dan PSSI.
“Sesuai dengan permohonan PT GTS yang telah disampaikan kepada Menpora untuk menyelenggarakan kompetisi ISC, Kemenpora pada 28 April telah menerbitkan surat rekomendasi kepada Dirut PT GTS dengan suatu catatan pada poin tiga bahwa Kemenpora memiliki hak dan kewenangan untuk mencabut rekomendasi tersebut,” demikian pernyataan resmi dari Kemenpora RI.
“Sebagai informasi, rekomendasi tersebut penting sebagai prasyarat untuk mengajukan perizinan kepada Kepolisian RI,” lanjutnya
Pihak Kemenpora melanjutkan, bentrokan di GBK, Jumat (24/6) malam, merupakan satu masalah dari rangkaian kejadian bentrok suporter di ISC yang disoroti Kemenpora. Sebelumnya juga ada catatan merah dari operator menyusul insiden bentrok suporter di Sleman dan Gresik, beberapa waktu lalu.
“Itu sebabnya Dirut PT GTS kemudian dipanggil Menpora tanggal 30 Mei 2016 yang meminta agar PT GTS bisa membenahi ketertiban turnamen mengingat perjalanannya masih panjang hingga Desember 2016 dan meminta PT GTS untuk melakukan penanda-tanganan MoU dengan pihak Kepolisian RI,” tulis pihak Kemenpora.
Dengan berulangnya kejadian ini, Kemenpora pun menilai PT GTS belum juga mematuhi perintah Kemenpora untuk merealisasikan MoU dengan Kepolisian RI dan juga belum mampu mengatasi berbagai insiden suporter yang terjadi.
PT GTS selaku operator Torabika Soccer Championship presented by IM3 Ooredoo buka suara terkait duel Persija vs Sriwijaya FC. PT GTS tidak memberikan toleransi pertandingan berhenti karena suporter terlibat kericuhan dengan polisi di menit akhir pertandingan PT GTS akan segera menyidangkan kasus ini dalam waktu dekat.
“Kami prihatin dan tidak ada toleransi terhadap pelanggaran disiplin atas kejadian ini. Kami sudah menerima laporan cepat dari match commisoner, pertandingan dihentikan,” kata Joko Driyono, Dirut GTS, seperti rilis yang diterima media.
Soal status laga antara Persija dan Sriwijaya, PT GTS berjanji akan menyelesaikan dalam waktu dekat.
“Status pertandingan akan GTS tetapkan dalam waktu secepat mungkin, termasuk sidang komdis terhadap pelanggaran disiplin. Semua fakta kejadian, kami kumpulkan selengkap mungkin. Saat ini masih berlangsung. Termasuk review kinerja panpel secara keseluruhan,” katanya.
Minta Keadilan
Direktur PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) Faisal Mursyid mengaku masih menunggu keputusan PT GTS terkait status pertandingan Persija melawan SFC.
Namun demikian saat ini belum ada pembahasan mengenai keputusan final.
“Saat ini dari GTS sendiri akan merekomendasikan ini ke Komisi Disiplin. Bagaimana kemudian hasilnya,” ujar Faisal Mursyid, Sabtu (26/6).
Sambung dia, pertandingan baru saja berlangsung kemarin malam sehingga masih dalam pembahasan yang berwenang. Dirinya berharap ini menjadi satu pembelajaran yang baik. Untuk semua elemen utamanya juga suporter dan lainnya sebagai satu yang terlepas dari tim skuad.
“Kan baru semalam, jadi estimasi Senin dari Komdis keputusannya setelah ada rekomendasi dari GTS,” tegasnya.
Manajer SFC Nasrun Umar berharap PT GTS bisa memutuskan secara adil terkait kasus terhentinya laga Persija Jakarta kontra SFC. Usai pertandingan, manajemen SFC pun terus berkomunikasi dengan match commisioner dan PT GTS agar bisa segera mengambil keputusan soal status laga tersebut.
Namun pihak match commisioner menuturkan yang berwenang mengambil keputusan adalah PT GTS selaku operator Indonesia Soccer Championship (ISC) A. Sementara PT GTS melalui direktur utamanya, Joko Driyono, mengatakan pihaknya masih membahas kasus tersebut.
“Tentu kami akan memperjuangkan hak kami. Makanya tadi kami minta keputusan tertulis dari match commisioner untuk ditulis dalam berita acara, yang diketahui oleh Persija dan manajer SFC. Itu tadi sudah dilakukan,” kata Nasrun Umar.
“Sekarang ranah keputusannya ada di GTS, kami menunggu itu dengan catatan berikan keadilan yang seadil-adilnya buat kami dengan menjunjung sportivitas olahraga,” tambahnya.
Lebih lanjut, Nasrun memastikan bahwa apabila dilanjutkan pun laga itu tak mungkin digelar kembali. Sementara rombongan Laskar Wong Kito juga sudah memesan tiket pulang ke Palembang.
“Yang jelas, kami datang dengan satu sikap ingin bertanding dengan sportif dan itu kami buktikan sampai menit ke-81. Adik-adik wartawan saksikan sendiri bagaimana pemain kami ada yang sesak napas, matanya perih dan sebagainya. Ini bukan dramatisasi, ini kondisi riil,” tutur Nasrun.
“Ada beberapa pertandingan yang terjadi di Indonesia kasusnya seperti ini. Salah satunya, PSM Makassar lawan Semen Padang dihentikan juga di menit 81 dan itu diputuskan laga selesai. Jika begitu, kami pun sebagai tim wajar atau tidak kalau ingin menang?” jelasnya.
Pelatih SFC Widodo Cahyono Putra menyoroti kinerja wasit di lapangan daripada insiden yang terjadi antara suporter Persija dengan pihak keamanan.
Dia menilai timnya layak mendapatkan kemenangan lewat penalti dari wasit Djumadi Effendi di babak pertama. Mantan pelatih Gresik United ini menilai, tim seharusnya mendapatkan penalti di menit awal pertandingan.
“Saya hanya menyoroti wasit, karena menit kelima, jelas Beto (Alberto Goncalves) dapat penalti. Sudah 20 tahun saya bermain bola dan sekarang menjadi pelatih, Indonesia tetap seperti ini,” tutur Widodo usai pertandingan.
“Kami hanya menyoroti pertandingan dan Komdis (Komisi Disiplin) harus melihat rekamannya. Kalau betul atau salah harus segera diputuskan soal wasit ini. Kami harus berusaha memajukan sepak bola. Ini bulan Ramadhan, dan pemain dipaksa untuk latihan, bermain malam. Setelah seperti ini, apa yang bisa dibanggakan,” kata Widodo.
Pemain SFC Firman Utina meminta tiga poin dipastikan jadi milik mereka. Mereka pun menolak pertandingan diulang meskipun pertandingan masih ada sisa waktu sembilan menit.
“Sungguh disayangkan hal itu bisa terjadi, cuma keputusan pertandingan ini seperti apa masih belum tahu. Cuma kalau mengacu di FIFA, kalau sembilan menit sisa pertandingan sudah dinyatakan menang,” ujar Fiman Utina.
14 Orang Ditangkap
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono mengatakan pihaknya telah menangkap 14 orang yang diduga The Jakmania atas bentrokan kelompok suporter sepakbola tersebut.
“14 orang diamankan ke Polres Metro Jakarta Pusat,” ucap Awi saat dihubungi di Jakarta.
Awi menambahkan, ke-14 orang itu masih diinterogasi penyidik lantaran diduga terlibat bentrokan di SUGBK.
“Saat ini masih diperiksa. Kami minta keterangannya terkait keributan tadi,” ujar Awi.
 
Tak hanya itu, menurut Awi, akibat bentrokan Jakmania dengan polisi itu dua mobil hancur diamuk massa. Satu di antaranya diketahui adalah mobil dinas milik polisi bernomor B 1361 RFP. Kemudian ada empat sepeda motor hangus dibakar massa di depan gerbang sebelah barat SUGBK. Satu di antaranya sepeda motor jenis trail milik polisI. #fer/sug



Leave a Reply