Beda dengan Yusril, Jo-Man Tetap Minta Tengku Zulkarnain Diproses


Ustaz Tengku Zulkarnain (Foto: Dok. Istimewa)


Jakarta – Relawan Jokowi Mania (Jo-Man) tak mempermasalahkan pendapat Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra yang meminta polisi mengabaikan laporan mereka terhadap Ustaz Tengku Zulkarnain. Menurut Jo-Man, UU ITE secara jelas menyebut kalau orang yang ikut menyebar berita bohong harus ditindak.

“Itu tanggapan sah-sah saja, nggak apa-apa. Kalau seandainya pelaku utama, wajib ditangkap. Tapi yang menyebarkan wajib kita laporkan. Artinya, kan undang-undang ITE jelas siapa yang menyebarkan berita bohong ada tindak pidananya, kalau seandainya pendapat Yusril tidak diproses, itu kan pendapat Yusril. Kan ada pendapat hukum juga, Yusril bukan di atas hukum. Tapi ya sah-sah sajalah,” kata Ketua Jo-Man Immanuel Ebenezer kepada detikcom, Sabtu (5/1/2019).

Jo-Man sendiri merupakan pihak yang melaporkan Tengku Zul atas tuduhan menyebarkan berita bohong atas Pasal 14 ayat (1) dan (2) dan/atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1945. Laporan teregistrasi dengan nomor LP/B/0019/I/2019/BARESKRIM.

Cuitan akun @ustadtengkuzul yang dijadikan barang bukti Jokowi Mania sudah dihapus Zulkarnain. Namun screenshot yang berisi cuitan utuh Tengku Zul kadung viral dan mendapat kritik dari kubu capres Joko Widodo (Jokowi), seperti jubir PSI Guntur Romli dan Ketua DPP PKB Abdul Kadir Karding. Berikut ini isi cuitan Tengku Zul yang disoal:

“7 kontainer surat suara Pemilu yang didatangkan dari China sudah tercoblos untuk pasangan nomor 01? (Menyebut salah satu stasiun TV, red). Nampaknya Pemilu sudah dirancang untuk curang? Kalau ngebet banget apa tidak sebaiknya buat surat suara permohonan agar capres yang lain mengundurkan diri saja? Siapa tahu mau.”

Kembali ke Immanuel, dia mengatakan jika Tengku Zul merasa tidak bersalah, maka harus meminta maaf karena telah menulis cuitan yang mempertanyakan kabar 7 kontainer surat suara telah dicoblos. Dia mengatakan harusnya Tengku Zul melaporkan ke Bawaslu atau Polisi jika mendapat informasi terkait dugaan pelanggaran Pemilu.

“Kalau nggak beginilah, Pak Tengku Zulkarnain minta maaf saja. Kalau seandainya Pak Tengku Zulkarnain minta maaf ‘eh itu saya salah’. Kalau dia tidak mau diproses hukum, dia minta maaf ke publik ‘iya saya salah’. Karena dia kan ulama, masa ulama menyebarkan fitnah. Kalau seandainya itu ada 7 kontainer, dia kan tahu ada namanya institusi panitia pengawas Pemilu, apalagi berkaitan dengan surat suara. Laporkan ke Bawaslu dong, kalau seandainya tidak percaya Bawaslu, laporkan ke Polisi,” jelasnya.

Immanuel kemudian meminta capres Prabowo Subianto untuk mengajak pendukungnya melaporkan dugaan pelanggaran hukum terkait pemilu ke pihak berwenang. Dia berharap para pendukung capres yang berdampingan dengan Sandiaga Uno itu tidak langsung mengunggah informasi yang belum terkonfirmasi ke media sosial.

“Pak Prabowo, kalau ada masalah hukum atau masalah berkaitan dengan pelanggaran Pemilu, laporkan. Ada yang namanya Polisi dan Bawaslu. Biar mereka yang menindak, jangan lapor ke Twitter, jangan ke Facebook, jangan laporkan ke media-media sosial lainnya,” jelasnya.

Yusril sebelumnya meminta polisi fokus pada fokus mencari pembuat hoax 7 kontainer surat suara dicoblos dan mengabaikan pelaporan terhadap Ustaz Tengku Zulkarnain. Alasannya, Tengku Zul bukan pelaku utama karena cuitannya bersifat pertanyaan.

“Sebaiknya fokus mencari pelaku pertama yang menulis konten hoax tersebut dan memviralkannya di media sosial. Tengku Zulkarnain jelas bukan pelaku utama,” kata Yusril dalam keterangan tertulis.

Tengku Zul sendiri sudah angkat soal cuitannya itu. Dia menyatakan cuitannya itu bersifat pertanyaan. Memang dalam cuitannya, Tengku Zul memakai tiga tanda tanya pada setiap akhir kalimatnya. Setelah KPU memastikan kabar surat suara yang tercoblos adalah hoax, Tengku Zul memperbaiki isi cuitannya.

“Saya di situ kan nanya. Kan ada tanda tanyanya,” ujar Tengku Zul kepada wartawan, Jumat (4/1). (haf/fdn)




Leave a Reply