Sempat Beredar, Pos Blitar Setop Distribusi Tabloid Indonesia Barokah


Foto: Erliana Riady


Blitar – Bawaslu Kabupaten Blitar menerima laporan peredaran Tabloid Indonesia Barokah. Tabloid yang diduga berisi black campaign salah satu paslon dalam konstestasi pemilu itu, beredar di tiga desa di Kecamatan Doko. Yakni Desa Kalimanis, Suru dan Genengan. 

Begitu menerima laporan itu, Bawaslu Kabupaten Blitar langsung berkoordinasi dengan Panwascam untuk mengamankannya. Ketua Bawaslu Kabupaten Blitar Hakam Sholahudin menyatakan, tabloid tidak diserahkan ke takmir masjid, namun oleh kantor pos disampaikan ke pamong desa. 

“Sehingga kepala desa bingung mau diserahkan ke siapa. Lalu berkoordinasi dengan kami. Lalu menyerahkan Tabloid Indonesia Barokah kepada kami. Kami terima Kamis (24/1/2019) pukul 16.30 wib,” jelas Hakam pada detikcom di Kantor Pos Jalan Manstrip Kota Blitar, Jumat (25/1/2019).

Adapun jumlah tabloid yang sudah berada di Bawaslu Kabupaten Blitar, Hakam belum bisa memastikan jumlahnya. Karena barang kiriman paket itu masih berupa bendelan berplastik yang belum dibuka. 

“Kemarin yang dari Desa Kalimanis itu ada delapan bendel dalam satu amplop. Kalau yang desa lainnya belum kami buka,” ungkapnya. 

Hari ini Hakam dan juga Bawaslu Kota Blitar memang mendatangi Kantor Pos Blitar. Mereka mendapat informasi, masih banyak paket yang diduga berisi Tabloid Indonesia Barokah yang belum didistribusikan ke kantor pos cabang se Blitar Raya. 

Pantauan detikcom, terdapat 17 bendel. Tiap satu bendel, ada yang berisi 4 ada juga yang 6 amplop. Ketika satu amplop dibuka, terdapat empat tabloid. Semua paket itu dikirim oleh Redaksi Tabloid Indonesia Barokah Pondok Melati, Bekasi. 

Hampir semua amplop berwarna coklat itu ditujukan ke pondok pesantren dan pengurus masjid di kota dan Kabupaten Blitar. Saat ditanya kapan datangnya dan berapa jumlah tabloid yang dikirim melalui Kantor Pos Blitar, Kepala Kantor Pos Blitar Ayutani Paranita tak bisa memastikannya. 

“Kami tidak bisa mendeteksi ya. Soalnya ini paket kiriman tanpa resi, jadi kami tidak mengetahui pasti kapan datangnya dan jumlahnya berapa,” ujar wanita berhijab itu. 

Namun Ayu mengaku, dari jumlah paket yang tersisa telah didistribusikan sekitar 10 persen dari jumlah awal. 

“Begitu kami mendapat info dari pusat, hari ini kami hold dulu paket dari pengirim sama. Kami juga sampaikan ke kantor pos cabang untuk menahan dulu paket serupa supaya tidak dikirimkan ke alamat tujuan,” pungkasnya.
(fat/iwd)




Leave a Reply