- September 11, 2024
- Posted by: Eko Adjis
- Category: Berita, Info Bisnis
* Ketiga indeks Wall Street ditutup bervariasi dan cenderung menguat pada perdagangan Selasa (10/9). Indeks acuan S&P 500 Wall Street ditutup naik pada hari Selasa (10/9). Tetapi kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi menghambat kenaikan. Dow Jones turun karena saham bank anjlok setelah peringatan tentang pelemahan kuartal ketiga sementara saham energi jatuh. Energi mengalami penurunan persentase terbesar di antara 11 indeks industri acuan. Sektor energi merosot 1,9% karena minyak mentah berjangka turun setelah OPEC+ memangkas perkiraan permintaan 2024 dan 2025. Saham bank turun secara luas setelah CEO Goldman Sachs David Solomon pada Senin malam mengatakan bahwa pendapatan trading bisa turun 10% kuartal ini.
* Para pelaku pasar tengah berfokus pada data inflasi AS yang akan dirilis pada Rabu (11/9) waktu setempat. Inflasi AS diprediksi akan menunjukkan sedikit moderasi menjadi 2,6% (yoy). Sementara, inflasi bulanan diperkirakan tetap tidak berubah 0,2% (mom). Saat ini, pelaku pasar uang hampir yakin bahwa The Fed akan memulai siklus pelonggaran kebijakan pada akhir bulan ini, dengan probabilitas 73% untuk pemotongan suku bunga 25 basis poin dan total pelonggaran sebesar 100 bps pada akhir 2024, menurut CME FedWatch Tool.
* Pasar mencermati rilis kinerja neraca perdagagan dan kinerja manufaktur China kemarin. Pada bulan Agustus, ekspor China tercatat tumbuh 8,7% (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Juli yang sebesar 7% yoy dan menjadi yang tertinggi sejak Maret tahun lalu. Namun, tidak demikian dengan impor. Pada Agustus, impor China hanya tumbuh 0,5% (yoy). Ini jauh melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang naik 7,2% (yoy). China mengalami surplus atau kelebihan produksi, yang membuat impor turun. Namun pada saat yang sama, permintaan dalam negeri masih lesu sehingga tidak ada pilihan kecuali menggenjot ekspor. Biro Statistik Nasional China (NBS) melaporkan, PMI manufaktur pada Agustus bernilai 49,1, turun dibandingkan Juli yang sebesar 49,4. Sejak April 2023, PMI manufaktur China cuma 3 kali berada di zona ekspansi (>50).
*Domestic Highlights*
* Perkembangan dari pasar saham domestik menunjukkan IHSG pada Selasa (10/9) ditutup menguat 0,76% (dtd) ke posisi 7.761,39 dari penutupan sebelumnya pada level 7.702,74. Nilai transaksi pada hari kemarin sebesar Rp10,93 triliun, dengan rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp12,61 triliun. Sementara itu, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp459,46 miliar. Secara akumulatif, investor asing membukukan net buy senilai Rp31,70 triliun sejak awal tahun. Rupiah berdasarkan kurs Bloomberg terapresiasi ke level Rp15.450/USD dari sebelumnya Rp15.455/USD.
* Beberapa perkembangan dari dalam negeri lainnya, yaitu:
* BI: Indeks Penjualan Riil (IPR) bulan Agustus 2024 diperkirakan meningkat mencapai 215,9 atau tumbuh sebesar 5,8% (yoy). Secara bulanan, angka tersebut naik sebesar 1,6% (mom) dibandingkan bulan Juli 2024.
* OJK: Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) mencapai angka 59 pada kuartal III-2024, naik dari 31 pada triwulan II-2024. Adapun hal tersebut membuat para bankir optimis bahwa ekonomi RI akan lebih baik pada akhir 2024.
* OJK menerapkan klasterisasi usaha untuk Perusahaan Modal Ventura (PMV) agar mereka dapat lebih optimal. Langkah ini sejalan dengan target nilai pembiayaan PMV yang mencapai Rp18,18 triliun hingga akhir 2024.
* OJK: Pertumbuhan piutang perusahaan pembiayaan meningkat sebesar 10,53% (yoy) menjadi Rp494,1 triliun. Nilai tersebut mencerminkan bahwa industri multifinance tetap menunjukkan pertumbuhan di tengah penurunan daya beli masyarakat.
* Kementerian ESDM menargetkan investasi EBT sebesar Rp19,01 triliun pasca relaksasi aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Adapun aturan mengenai TKDN telah tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No.11 tahun 2024.
*Corporate Highlights*
* GMFI mencatatkan laba bersih sebesar USD13,3 juta pada semester I-2024. Perolehan tersebut naik sebesar 558% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD2,02 juta.
* PNBN akan menawarkan obligasi senilai Rp3,91 triliun sebagai rangkaian dari Obligasi Berkelanjutan IV. Dana yang diperoleh akan digunakan oleh perseroan untuk modal kerja dalam pengembangan usaha, terutama pemberian kredit.
* WIKA telah melunasi utang obligasi dan sukuk dengan total sebesar Rp896,5 miliar. Adapun rincian utang tersebut terdiri dari Obligasi berkelanjutan II senilai Rp571 miliar dan Sukuk Mudharabah berkelanjutan II senilai Rp325,5 miliar.
* LPGI berencana melakukan stock split dengan rasio 1:10 pada 17 September 2024. Dengan demikian, total saham yang beredar akan meningkat dari 300 juta lembar saham menjadi 3 miliar lembar saham.
* GIAA akan mengalihkan sebagian asetnya sebagai penyertaan modal non-tunai kepada entitas usahanya, yaitu GMFI. Aset yang dialihkan mencakup bangunan, sarana pelengkap, hanggar, dan bangunan penunjang lainnya.
