“Menjahit Luka, Merajut Makna”: Visualisasi Empati Ryan LH di Pameran NGE-HENG! Refleksi Mental

Jakarta – Seniman visual Ryan LH ambil bagian dalam pameran seni kontemporer bertajuk NGE-HENG! Refleksi Mental, yang digelar di Semesta’s Gallery pada 9–31 Agustus 2025.

Pameran ini merupakan volume kedua dari rangkaian pameran kolektif yang menghadirkan 35 seniman dari berbagai kota di Indonesia, serta dua partisipan mancanegara dari Kopenhagen dan Mesir. Karya-karya yang ditampilkan mencakup beragam medium: instalasi, fotografi, hingga seni rupa dua dimensi lainnya.

Fotografi Tekstural dan Luka yang Dirawat

Ryan LH, seniman kelahiran 1974 dan lulusan Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta tahun 2003, memamerkan satu karya berjudul “Terikat, Terkait”. Karya ini dibuat pada 2024 menggunakan teknik UV Print di atas aluminium composite, berukuran 100 x 166 cm.

“Saya menggunakan fotografi tekstural sebagai dasar ekspresi. Saya memotret permukaan yang lapuk dan penuh sejarah,” ungkap Ryan mengenai pendekatannya.

“Terikat, Terkait” menampilkan dua panel besar yang secara fisik terbelah. Retakan serta lapisan cat yang mengelupas pada permukaan berwarna biru dan kuning membentuk metafora visual tentang waktu—yang menggerogoti, namun sekaligus menciptakan tekstur kehidupan.

Di antara kedua panel, Ryan menambahkan kawat yang dijalin melintasi celah, menyerupai tindakan menjahit luka. Desain ini tidak hanya mengusung estetika wabi-sabi—filosofi Jepang yang memaknai keindahan dalam ketidaksempurnaan—tetapi juga memuat simbolisme hubungan manusia.

“Upaya menyatukan kembali sesuatu yang telah terbelah adalah proses yang menyakitkan, tetapi penuh harapan,” ujarnya. “Saya memperlakukan karya seperti tubuh—rentan, namun bisa dirawat.”

Simbolisme Keterpisahan dan Harapan

Melalui teknik fotografi tekstural, Ryan menangkap permukaan yang usang dan menyimpan jejak waktu. Intervensi manual berupa lubang serta kawat jahitan menghadirkan dimensi baru—membuat citra diam itu seolah hidup dan menyentuh secara emosional.

Dalam narasi karyanya disebutkan: “Dua panel besar yang terbelah secara fisik merepresentasikan keterpisahan—baik dalam konteks relasi, identitas, maupun memori masa lalu. Namun pada celah itu, seniman menambahkan kawat yang dijalin melintasi kedua bidang—sebuah gestur artistik menyerupai tindakan menjahit luka.”

Sejak 2021 hingga 2024, Ryan telah mengikuti puluhan pameran bersama serta menggelar lima pameran tunggal di Bali, Jakarta, Batam, Bandung, dan Yogyakarta. Ia menyatakan bahwa:

“Benang itu tidak menyatu sempurna, namun cukup untuk menunjukkan niat: bahwa keterpisahan bukan akhir. Hubungan bisa dirajut ulang, meskipun bekasnya akan tetap ada.”

Refleksi Mental dan Kesadaran Kolektif

Pameran NGE-HENG! Refleksi Mental menjadi ruang yang menggugat batas kesadaran, merayakan kebingungan, dan merespons absurditas realitas kontemporer. Dalam suasana pasca-pandemi dan tekanan sosial yang semakin kompleks, karya-karya yang dipamerkan mencerminkan kondisi mental kolektif yang kerap “nge-heng”—macet di tengah arus informasi dan ekspektasi sosial.

Dalam konteks ini, “Terikat, Terkait” menjadi lebih dari sekadar karya visual. Ryan mengajak kita merenungkan bahwa dalam retakan dan keterpisahan, masih ada ruang untuk menjalin ulang—melalui kasih, memori, dan harapan.

Sebagaimana ia sampaikan: “Kita semua pernah retak, pernah terpisah—namun tali kasih, kenangan, dan harapan adalah apa yang membuat kita tetap terikat, terkait.”

//Kelana Peterson



Leave a Reply