Gaza dan Bondi dalam Cermin Kemanusiaan

Aparat Australia masih tangani dampak penembakan massal perayaan Hanukkah di Pantai Bondi, Sydney, kemarin malam. Insiden itu menewaskan belasan orang & melukai puluhan warga sipil. Kepolisian NSW menetapkannya sebagai aksi terorisme.

Mereka nyatakan serangan itu menarget komunitas Yahudi. Anthony Albanese Perdana Menteri tegaskan ini sebagai terorisme & antisemitisme yang tak dapat ditoleransi. Dia ingatkan, warga Yahudi di Australia tak boleh tanggung akibat konflik apa pun di luar negaranya. Polisi juga belum tegaskan motif ideologis pelaku.

Peristiwa ini mengingatkan saya pada Catatan Pemred yang saya tulis 4 Oktober 2025, berjudul “Spektrum Pemikiran Intelektual Israel: Dari Genosida hingga Rasionalisasi Kekerasan.” Tulisan itu memetakan kekerasan negara yang bekerja bukan hanya lewat senjata, tetapi juga lewat bahasa dan legitimasi. Amos Goldberg menyebut yang terjadi di Gaza sebagai genosida. Raz Segal menyebutnya “a textbook case of genocide.” Gaza bukan Auschwitz, tetapi pola penghancurannya penuhi ciri genosida.

Di kutub lain, kekerasan dirasionalisasi sebagai kebutuhan eksistensial negara. Garis antara kombatan-warga sipil dikaburkan, penghancuran kolektif diperlakukan sebagai keniscayaan. Di titik ini, kekerasan berhenti jadi tindakan militer, & dinormalisasi sebagai cara pikir.

Yuval Noah Harari ingatkan kehancuran legitimasi jangka panjang. Sebuah bangsa bisa menang perang, tetapi kehilangan masa depan moralnya. Tragedi Bondi menunjukkan, normalisasi kekerasan tak berhenti di medan konflik. Ia merembes ke imajinasi global, meledak di ruang sipil.

Tapi kejernihan menuntut kita menolak simplifikasi. Menghentikan spiral kekerasan tak berarti mendelegitimasi perjuangan di Gaza. Kritik pada Zionisme, solidaritas Palestina, & penolakan teror pada diaspora Yahudi bukan posisi saling meniadakan. Ini satu etika kemanusiaan.

Di dunia yang kian kompleks, menjaga perjuangan dalam frame perdamaian jadi pilihan paling rasional. Keberanian melawan ketidakadilan penting, tetapi kebijaksanaanlah yang mencegahnya berubah jadi lingkaran kekerasan tak berujung.

Eddy Prastyo | Editor in Chief | Suara Surabaya Media



Leave a Reply