- April 6, 2026
- Posted by: Eko Adjis
- Category: Berita
Pergerakan bursa saham global sepekan terakhir sangat dipengaruhi oleh dinamika di Timur Tengah yang memicu ketidakpastian tinggi.
Wall Street Berfluktuasi: Bursa AS ditutup beragam pada Kamis (2/4) sebelum libur Good Friday. Optimisme awal pekan yang dipicu oleh isu meredanya konflik Timur Tengah pupus setelah tensi kembali memanas di akhir pekan.
Dinamika AS-Iran: Sempat muncul sentimen positif saat Presiden Trump mengisyaratkan penarikan pasukan dan Iran menyusun protokol lalu lintas Selat Hormuz bersama Oman. Namun, situasi berbalik drastis pada hari Minggu setelah Trump mengancam akan menyerang fasilitas vital Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka hingga Selasa.
Krisis Energi & Harga Minyak: Ketegangan ini, ditambah kerusakan fasilitas energi di Kuwait akibat serangan drone, mendorong harga minyak melonjak. Harga WTI mencapai USD114/barel dan Brent menyentuh USD111/barel. Meskipun OPEC+ menyetujui kenaikan produksi, realisasinya dinilai masih teoritis karena kendala teknis.
Sorotan Pasar Domestik (Domestic Highlights)
Kondisi global yang tidak menentu memberikan tekanan pada pasar keuangan dalam negeri:
Laju IHSG: Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 0,99% (wtd) ke level 7.026,78.
Aktivitas Transaksi: Rata-rata nilai transaksi harian menyusut menjadi Rp14,77 triliun, turun signifikan dibandingkan pekan sebelumnya (Rp23,33 triliun).
Arus Modal Asing: Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp2,95 triliun dalam sepekan, sehingga total net sell sepanjang tahun berjalan (ytd) mencapai Rp33,83 triliun.
Nilai Tukar: Rupiah terdepresiasi ke level Rp17.000/USD berdasarkan kurs Bloomberg.
Indikator Ekonomi Penting Sepekan Terakhir
Beberapa rilis data dan kebijakan penting yang memengaruhi fundamental ekonomi Indonesia:
Sektor Riil & Eksternal
Surplus Perdagangan: BPS mencatat surplus neraca perdagangan barang Februari 2026 sebesar USD1,27 miliar, naik dari bulan sebelumnya.
Logistik Mudik: Volume lalu lintas mudik Lebaran 2026 mencapai 3,25 juta kendaraan (+2,3% yoy), dengan puncak arus pada 18 Maret (H-3).
Moneter & Fiskal
Uang Beredar: Likuiditas M2 pada Februari 2026 tumbuh 8,7% (yoy) mencapai Rp10.089,9 triliun.
Instrumen Baru BI: Bank Indonesia resmi mengimplementasikan Repo Valuta Asing dengan underlying asset berupa SVBI dan SUVBI.
Kepatuhan Pajak: DJP telah menerima 9,75 juta SPT (63,8% dari target) per 29 Maret 2026.
Proyeksi & Kebijakan Strategis
Revisi Pertumbuhan OECD: OECD memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,8% untuk tahun 2026 (dari sebelumnya 5%).
Kebijakan WFH: Merespons krisis energi global, pemerintah memberlakukan Work From Home (WFH) bagi ASN dan sektor swasta mulai 1 April 2026 untuk menghemat konsumsi energi.
