Surat untuk Jiwa yang Berlari

Lampu jalanan di tepian Sungai Musi mulai meredup saat aku akhirnya duduk di kursi kayu yang sudah mengelupas catnya. Di tanganku, ada secarik kertas lusuh yang kutemukan di selipan buku agenda lama. Tulisan di sana berantakan, ditulis oleh versiku sepuluh tahun yang lalu.

“Untuk aku di masa depan: Apakah kau sudah punya kamera yang kau impikan? Apakah kau masih gemar mengejar matahari terbenam?”

​Aku tersenyum kecut. Kamera itu sudah ada, bahkan lebih canggih dari yang pernah kubayangkan. Tapi matahari terbenam? Akhir-akhir ini, aku lebih sering mengejar deadline dan angka-angka inflasi daripada semburat jingga di langit.

​Malam itu, di bawah bayang-bayang Jembatan Ampera yang megah, aku memutuskan untuk membalasnya.

Palembang, 19 April 2026

Halo, Diriku.

​Maaf butuh waktu lama untuk membalas suratmu. Aku sedang sibuk menjadi “dewasa”—istilah yang dulu kita anggap sangat keren, tapi ternyata cukup melelahkan.

​Aku ingin memberitahumu beberapa hal.

​Pertama, terima kasih karena tidak menyerah saat semua pintu terasa tertutup. Ingat saat kita hanya punya mimpi besar tapi dompet kosong? Keberanianmu saat itulah yang membangun gedung tempatku bekerja sekarang. Kau benar, dunia ini luas, dan kata-kata yang kau tulis dengan gemetar dulu sekarang dibaca oleh ribuan orang.

​Kedua, maafkan aku jika belakangan ini aku terlalu keras padamu. Aku sering lupa memujimu saat kau berhasil melewati hari yang berat. Aku terlalu sibuk melihat ke depan hingga lupa menengok ke belakang dan melihat seberapa jauh kita telah melangkah. Kita sudah melewati banyak badai, dan lihatlah, kita masih berdiri.

​Ketiga, soal matahari terbenam itu… aku berjanji akan mencarinya lagi. Bukan untuk difoto dan diunggah ke media sosial, tapi untuk dinikmati sendiri. Untuk mengingatkanku bahwa seindah apa pun sebuah hari, ia harus berakhir agar hari baru yang lebih baik bisa dimulai.

​Jangan khawatir tentang masa depan. Aku sudah di sini, dan meskipun tidak semuanya sempurna, semuanya baik-baik saja. Teruslah berani, teruslah jujur dalam setiap tulisanmu, dan jangan lupa untuk sesekali berhenti berlari hanya untuk sekadar bernapas.

​Kau adalah pahlawan yang tidak memakai jubah, tapi memakai pena dan harapan.

Dari aku, yang sedang belajar mencintaimu kembali.

​Aku melipat kertas itu, menyelipkannya kembali ke dalam agenda. Angin sungai berembus dingin, tapi di dalam dadaku, ada hangat yang perlahan menyebar. Hari ini, aku tidak hanya mengirim surat untuk masa lalu, tapi juga memberikan pelukan untuk masa kini.(Eldi)



Leave a Reply