- April 25, 2026
- Posted by: Eko Adjis
- Category: Sastra On Trijaya
Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur, sebuah bangku taman yang catnya sudah mengelupas menjadi saksi bisu bagi seorang pria bernama Aris. Malam itu, dunianya terasa menciut hingga seukuran layar ponsel yang sedari tadi ia genggam tanpa arah.
Aris baru saja kehilangan segalanya dalam kurun waktu satu bulan: pekerjaan yang ia bangun selama sepuluh tahun, tabungan yang habis untuk pengobatan ibunya yang akhirnya berpulang, dan kini, selembar surat tunggakan sewa kontrakan yang harus dikosongkan besok pagi.
Ia menatap lampu-lampu gedung tinggi di kejauhan. Dulu, ia adalah bagian dari kerlip cahaya itu. Sekarang, ia merasa seperti bayangan yang terhapus oleh kegelapan di bawah pohon beringin tua.
Kehampaan: Rasanya bukan sedih, melainkan hampa. Seperti jatuh ke dalam sumur yang tak memiliki dasar.
Kehilangan Identitas: Tanpa kartu nama dan jabatan, ia merasa tidak lebih dari sekadar tumpukan tulang dan daging yang lelah.
Ia mengeluarkan sebuah koin dari sakunya, satu-satunya benda logam yang tersisa. Ia membolak-baliknya di bawah lampu jalan yang temaram. “Ini dia,” gumamnya pelan. “Titik di mana tidak ada lagi yang bisa diambil dariku.”
Saat ia hampir menyerah pada rasa kantuk dan dingin, seorang anak kecil penjual tisu mendekat. Wajahnya cemong, namun matanya berbinar. Anak itu tidak menawarkan dagangannya, melainkan hanya duduk di ujung bangku yang sama.
”Kenapa belum pulang?” tanya Aris, suaranya parau.
”Belum habis, Om. Tapi tidak apa-apa, besok kan matahari bangun lagi,” jawab anak itu santai sambil mengunyah sepotong biskuit kering.
Kalimat sederhana itu menghantam Aris lebih keras daripada surat pemecatannya. Besok matahari bangun lagi.
Aris menyadari satu hal yang sering dilupakan orang saat berada di dasar: ketika kamu sudah berada di titik terendah, satu-satunya arah yang tersisa adalah ke atas.
Ia tidak langsung menjadi kaya atau sukses malam itu juga. Namun, ia berdiri, merapikan kemejanya yang kusut, dan mulai berjalan menuju stasiun. Ia akan menumpang tidur di sana, lalu besok pagi, ia akan mencari pekerjaan apa pun—mulai dari nol, dengan tangan kosong, tapi dengan jiwa yang tidak lagi takut akan kehilangan.
Karena terkadang, kita perlu kehilangan segalanya agar bisa melihat apa yang benar-benar berharga: harapan yang tersisa di sisa hari.
