- May 6, 2026
- Posted by: Eko Adjis
- Category: Berita
Palembang – Pada April 2026, Provinsi Sumatera Selatan mencatatkan deflasi sebesar 0,04% (mtm), berbalik dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,29% (mtm). Secara tahunan, inflasi juga melandai mencapai 1,63% (yoy), turun signifikan dari 3,09% (yoy) dan berada di bawah inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,42% (yoy) dari sebelumnya 3,48% (yoy). Capaian ini mencerminkan terjaganya stabilitas harga serta efektivitas sinergi pengendalian inflasi di daerah, sehingga memberikan ruang daya beli yang lebih baik bagi masyarakat.
Secara bulanan, deflasi terutama didorong oleh penurunan harga sejumlah komoditas utama, antara lain emas perhiasan (0,14%), daging ayam ras (0,14%), telur ayam ras (0,06%), cabai rawit (0,04%), dan angkutan antarkota (0,04%). Koreksi harga emas sejalan dengan aksi ambil untung dari investor pasca kenaikan harga sebelumnya. sementara penurunan harga pangan dan transportasi mencerminkan normalisasi permintaan pasca Ramadan dan Idulfitri.
Ke depan, tekanan inflasi pada Mei 2026 diprakirakan meningkat secara terbatas, antara lain dipengaruhi oleh potensi kenaikan tarif angkutan udara seiring meningkatnya harga avtur akibat dinamika harga minyak global. Selain itu, awal musim kemarau juga perlu diantisipasi karena berpotensi memengaruhi produksi komoditas hortikultura seperti bawang dan cabai. Meski demikian, berbagai risiko tersebut telah diantisipasi melalui langkah-langkah pengendalian yang terukur dan terkoordinasi.
Dalam menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus memperkuat koordinasi dan sinergi melalui strategi pengendalian inflasi berbasis 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Hingga akhir April 2026, telah dilaksanakan lebih dari 300 kegiatan operasi pasar murah/GPM/SPHP di berbagai wilayah Sumatera Selatan, serta puluhan inspeksi mendadak (sidak) pasar untuk memastikan ketersediaan stok dan kepatuhan terhadap harga eceran tertinggi.
Upaya stabilisasi juga diperkuat melalui subsidi harga dan subsidi ongkos angkut untuk menjaga kelancaran distribusi pangan. Hingga April 2026, BI Sumsel telah memberikan fasilitasi subsidi ongkos angkut sebanyak 77 kali untuk komoditas pangan utama dengan total berat komoditas yang diangkut mencapai kurang lebih 47,92 ton guna memastikan ketersediaan komoditas pangan dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Selain itu, Kerjasama Antar Daerah (KAD) terus dioptimalkan guna memperkuat pasokan komoditas strategis, termasuk bawang merah. Selama Maret-April 2026, terdapat realisasi KAD antara Sumsel dan Sumbar untuk komoditas Bawang Merah sebanyak 22,67 ton yang turut membantu memperkuat ketersediaan pasokan di Sumatera Selatan. Penguatan koordinasi juga dilakukan melalui berbagai forum komunikasi, seperti Rapat Koordinasi TPIP–TPID secara rutin dan berbagai komunikasi kebijakan dalam rangka pengendalian inflasi seperti iklan layanan masyarakat bijak belanja dan publikasi jadwal OPM di berbagai kanal media.
Di sisi lain, penguatan ketahanan pangan daerah juga didorong melalui berbagai program inovatif seperti Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP), yang pada tahun ini diperluas melalui kolaborasi dengan pesantren dan koperasi sebagai bagian dari ekosistem produksi dan distribusi pangan.
Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Daerah berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi guna menjaga stabilitas harga, meningkatkan ketahanan pangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Upaya ini juga sejalan dengan dukungan terhadap program prioritas nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG).
