- May 28, 2026
- Posted by: Eko Adjis
- Category: Berita
Di tengah hingar-bingar pameran anggrek internasional di Asia, nama Indonesia tetap hadir melalui satu sosok, yaitu Rudy M. Mintarto. Selama lebih dari 15 tahun, alumnus Arsitektur Universitas Udayana Bali itu konsisten memenuhi undangan berbagai pameran anggrek dunia demi menjaga kehormatan Indonesia di mata komunitas internasional.
Bukan sebagai pengusaha besar. Bukan pula eksportir papan atas. Rudy hadir membawa misi sederhana yang justru nyaris luput dari perhatian negara: memastikan dunia tidak lupa bahwa Indonesia memiliki kekayaan anggrek terbaik.
“Saya hanya ingin dua hal. Bendera merah putih tetap berkibar bersama negara lain, dan dunia tetap ingat bahwa anggrek Indonesia masih hidup,” ujar Rudy saat ditemui di kediamannya di kawasan Gubeng Kertajaya, Surabaya.
Pada 29 Mei 2026, Rudy kembali bertolak menuju Genting Highland, Malaysia, untuk mengikuti pameran anggrek internasional yang berlangsung 3–10 Juni 2026 di Resort World Awana.
Dalam area display seluas 32 meter persegi, Rudy tidak hanya menghadirkan bunga-bunga eksotis. Ia juga membawakan wajah budaya Indonesia melalui visual jaranan, tari remo, gandrung Banyuwangi, hingga nuansa arsitektur candi yang dipadukan dengan keindahan anggrek. Sebuah diplomasi budaya yang dijalankan hampir tanpa dukungan negara.
Ironisnya, di saat individu seperti Rudy berupaya menjaga nama Indonesia di panggung internasional, pemerintah belum menempatkan anggrek sebagai komoditas strategis penghasil devisa. Padahal Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman anggrek terbesar di dunia.
Potensi Besar yang Terabaikan
Data Badan Pusat Statistik tahun 2019 menunjukkan ekspor anggrek Indonesia hanya sekitar 38 ribu kilogram dengan nilai Rp 3,2 miliar. Angka tersebut sangat kecil dibandingkan Thailand yang mampu menghasilkan ratusan juta dolar AS dari ekspor anggrek setiap tahun.
Taiwan bahkan sukses menjadikan anggrek Phalaenopsis sebagai industri berbasis teknologi dan penelitian dengan nilai ekspor lebih dari 200 juta dolar AS per tahun. Indonesia tertinggal jauh.
“Yang lemah bukan kualitas anggreknya. Dunia mengakui anggrek Indonesia sangat bagus. Tapi kita kalah karena tidak ada keberpihakan politik,” kata Rudy.
Selama ini perhatian pemerintah lebih banyak diarahkan pada sektor pangan seperti konsumsi padi, jagung, dan hortikultura. Anggrek masih dianggap sekadar tanaman hias, bukan aset ekonomi masa depan.
Akibatnya, petani anggrek harus menghadapi sendiri keruwetan aturan ekspor, prosedur karantina yang panjang, hingga regulasi CITES yang sering membingungkan.
Persoalan terbesar terdapat pada regulasi. Banyak jenis anggrek Indonesia yang masuk Appendix I dan II CITES karena berasal dari spesies yang dilindungi. Namun implementasinya di Indonesia sering tidak membedakan antara anggrek pembohong dan hasil budidaya kultur jaringan.
Dampaknya, petani yang membudidayakan anggrek secara legal tetap harus melewati prosedur ekspor yang panjang dan melelahkan.
“Petani akhirnya takut ekspor, padahal itu hasil budidaya, bukan mengambil dari alam,” ujar Rudy.
Di negara lain, pemerintah justru hadir memberikan dukungan nyata. Thailand aktif membantu penelitian, sertifikasi kebun, hingga membuka akses pasar internasional. Industri anggrek dibangun terintegrasi dari hulu sampai hilir.
Petani kecil dihimpun dalam koperasi dan didukung fasilitas perdagangan, pengepakan, hingga standar ekspor global.
Taiwan melangkah lebih modern melalui teknologi rumah kaca otomatis, kultur jaringan canggih, dan diplomasi perdagangan yang agresif. Hasilnya, Taiwan mampu mengekspor anggrek lengkap dengan media tanam ke Amerika Serikat.
Sebaliknya, Indonesia tetap mewajibkan pengiriman anggrek tanpa media tanam sehingga biaya logistik lebih mahal dan risiko kerusakan tanaman sangat tinggi.
Singapura memang bukan produsen utama, namun berhasil menjadi pusat perdagangan anggrek premium Asia karena regulasi yang cepat dan efisien. Indonesia persis seperti raksasa yang tertidur di atas kekayaan alamnya sendiri.
Menanti Keseriusan Negara
Menurut Rudy, kebangkitan industri anggrek nasional tidak memerlukan proyek besar. Yang paling dibutuhkan justru keberanian politik untuk memperbaiki regulasi dan membuka akses pasar.
Pemerintah harus mampu membedakan secara tegas antara anggrek pembohong dan anggrek hasil kultur jaringan agar petani kecil tidak terbebani proses perizinan yang rumit.
Selain itu, batasan diplomasi dengan negara tujuan ekspor juga perlu diperkuat agar Indonesia memperoleh perlakuan yang setara dengan Taiwan.
“Kalau regulasi dipermudah, petani anggrek Indonesia bisa langsung berkembang,” katanya.
Dukungan lain yang diperlukan adalah penelitian varietas unggul, pembangunan fasilitas packing dan cold chain, serta pembentukan koperasi atau off-taker yang menjamin pasar ekspor bagi petani kecil.
Yang tak kalah pentingnya adalah membangun branding nasional. Selama ini dunia memperkenalkan “Anggrek Thailand”, namun belum ada kekhawatiran yang kuat tentang “Anggrek Indonesia”, padahal Indonesia memiliki ribuan spesies anggrek langka yang tidak dimiliki negara lain.
Menjaga Nama Indonesia Sendirian
Di tengah minimnya perhatian pemerintah, Rudy tetap melangkah dari satu negara ke negara lain membawa nama Indonesia. Baginya, pameran anggrek bukan sekadar soal bunga.
Di sana ada pertaruhan nama bangsa, kebudayaan, dan peluang ekonomi yang belum dianggap serius oleh negara.
Karena itu Rudy terus datang, meski harus berjuang hampir sendirian. Sebab jika para pecinta anggrek berhenti menjaga nyala itu, Indonesia perlahan hanya akan menjadi penonton atas kekayaan hayatinya sendiri.
Ketika negara lain menikmati devisa dari anggrek, Indonesia masih sibuk mencari alasan mengapa peluang besar itu terus terlewatkan. Ironis.
Penulis: Rokimdakas
// Kelana peterson
