TRISUM Padukan Jazz, Rock, Etnik di Prambanan Jazz Festival 2026

TRISUM menjadi salah satu penampil yang ditunggu oleh pecinta jazz yang datang di hari pertama Jumat 3 Juli 2026 Prambanan Jazz Festival. Penampilan Trisum di Stage Rukun dipenuhi penonton yang memberikan apresiasi terhadap skill bermain dari 3 pemain gitarnya yang mempunyai ke khasan masing masing.

Untuk Prambanan Jazz Festival 2026 kali ini TRISUM tampil dengan formasi Tohpati (gitar), Dewa Budjana (gitar), Balawan (gitar), Indro Hardjodikoro (bass) dan Echa Soemantri (drum). Beberapa komposisi lagu dari album, mereka bawakan dengan konsep aransemen baru seperti layaknya jazz yang selalu penuh dengan improvisasi.

Keunikan TRISUM supergrup jazz fusion Indonesia terletak pada karakter permainan dan spesialisasi masing-masing dari ketiga gitaris utamanya yang saling melengkapi. Konsep ini sering disebut sebagai versi Indonesia dari proyek gitar dunia G3. I Wayan Balawan fokus pada dinamika, terkenal dengan teknik Touch Tapping (memainkan melodi dengan ke-8 jari tangan di fretboard gitar). Balawan kerap memadukan permainan gitarnya dengan nuansa etnik Bali yang dinamis. I Dewa Gede Budjana fokus pada performa, gitaris utama grup GIGI ini memiliki melodi yang sangat liris, kontemplatif, dan berkarakter kuat. Ia memberikan sentuhan warna musik progresif dan spiritual dalam aransemen TRISUM. Tohpati Ario Hutomo fokus pada kemewahan, dikenal dengan sound gitar yang megah, teknik picking yang sangat cepat, dan kepiawaiannya menyusun harmoni orkestrasi yang rumit. Ia mewakili sisi kemewahan dalam setiap komposisi lagu. Bersama dengan musisi pendukung seperti Indro Hardjodikoro (bass) dan Echa Soemantri (drum), ketiganya meleburkan aliran rock, jazz, hingga etnik.

TRISUM terbentuk pada tahun 2004. Berawal dari proyek jam session panggung, grup ini digawangi oleh tiga gitaris virtuoso Indonesia yaitu I Dewa Gede Budjana, Tohpati, dan I Wayan Balawan. Nama “TRISUM” awalnya merupakan akronim dari B-3, merujuk pada nama para pendirinya yakni Budjana, Balawan, dan Bontot (nama panggilan Tohpati). Konsep awal grup ini adalah dua gitaris inti didukung oleh seorang gitaris bintang tamu. Tahun 2005 tampil di festival musik Java Jazz Festival di Jakarta Convention Center dan menggelar konser “Dialog Tiga Gitar” di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Pada album pertama yang mereka luncurkan yang diberi label 1st Edition, kelompok ini menghadirkan bintang tamu I Wayan Balawan. Sembilan lagu di album perdananya itu menghadirkan sebuah karya sang bintang tamu, di samping ciptaan Budjana, Tohpati, Ismail Marzuki dan dua lagu tradisional. Dalam album ini ikut serta para musisi tambahan Indro Hardjodikoro (bass) Sandi Winarta (drum), Eugene Bounty (clarinet), Saat (seruling) dan Jalu Pratidina (Kendang).

Album kedua TRISUM diberi label Five in One. Pada album ini mereka mulai menemukan format personel yang mereka anggap solid. Selain 3 gitaris dan pemain bass tetap seperti formasi pada album pertama mereka menggaet Echa Soemantri untuk mengisi sesi drum. Lima personel trisum mengilhami pemberian nama album ini. Album ini menghadirkan sembilan karya. TRISUM di Anugerah Musik Indonesia 2023 memenangkan karya produksi progressive terbaik dengan komposisi berjudul “Bimasakti”. ( Adji Soebijantoro )



Leave a Reply