Menagih Mahkota Duri: Harga Dari Tawa Dulu

Palembang Dahulu, malam adalah panggung utama dan aku adalah aktor utamanya. Di usia dua puluhan, aku mengenakan dosa-dosaku seperti sebuah mahkota kehormatan. Ada rasa bangga yang aneh saat memamerkan hidup tanpa arah: alkohol yang tak pernah absen membasahi tenggorokan, uang hasil memanipulasi kepercayaan orang tua yang habis dalam semalam, hingga hati orang-orang tulus yang kupatahkan tanpa rasa bersalah. Aku merasa kebal, seolah aturan moral hanya dibuat untuk mereka yang penakut. Setiap kali seseorang mengingatkan, aku hanya tertawa lepas, merasa paling tahu cara menikmati masa muda.

​Namun, kejayaan palsu itu ada tanggal kadaluarsanya. Suatu pagi, setelah terbangun di lantai kamar kos yang dingin dengan kepala yang dihantam histeria sesal, aku merasa muak. Aku menatap cermin dan membenci figur yang ada di dalamnya. Hari itu, aku menanggalkan mahkota busukku. Aku berikrar untuk berubah: mendatangi orang-orang yang pernah kuaniaya untuk meminta maaf, mulai mencari pekerjaan halal dengan gaji seadanya, dan melangkah ke tempat ibadah dengan lutut gemetar.
​Aku mengira pintu maaf dunia akan langsung terbuka lebar saat aku memutuskan jadi “orang baik”. Sayangnya, semesta tidak bekerja sesederhana itu.
​Saat aku mulai merangkak perbaiki hidup, karma datang bukan sebagai tegoran halus, melainkan badai yang memukulku hingga babak belur. Usaha kecil yang kubangun dari sisa tabungan ditipu kawan sendiri hingga habis tak bersisa. Orang-orang yang dulu kupatahkan hatinya balik meludahi niat baikku—mereka menuduh pertobatanku hanya drama baru. Bahkan saat aku mencoba mencintai seseorang dengan tulus, aku dikhianati dengan cara yang persis sama seperti cara aku menghancurkan mantan-mantanku dulu.
​Ada masa di mana aku terduduk di sudut kamar, menangis hingga kehabisan napas. Wajahku lebam oleh kekecewaan, hatiku remuk oleh penolakan. Mengapa saat aku menjadi bangsat hidupku terasa begitu mudah, tetapi saat aku berjuang menjadi manusia benar, rasa sakitnya justru tak tertahankan?

​Kini aku paham. Karma tidak sedang menghancurkanku; ia sedang menagih tunggakan utang yang dulu kubangga-banggakan. Setiap pukulan nasib yang kuterima hari ini adalah harga pas dari setiap dosa yang dulu kutertawakan. Aku memang babak belur, berdarah-darah menyapu serpihan masa lalu. Namun kali ini, aku tidak akan lari. Aku menerima setiap pukulan ini dengan kepala tegak, karena aku tahu, ini adalah satu-satunya cara agar jiwaku benar-benar bersih.(eldi)



Leave a Reply