- September 7, 2026
- Posted by: Eko Adjis
- Category: Berita
Jakarta – Membawa sebuah festival musik hingga bertahan selama satu dekade bukan pekerjaan mudah. Terlebih, yang diangkat bukanlah ajang pencarian bakat penyanyi atau festival musik populer, melainkan drum dan perkusi yang selama ini berada di ceruk tersendiri di industri hiburan.
Namun, Indonesia Drum & Perkusi Festival (IDPFEST) membuktikan bahwa musik tabuh juga mampu memiliki panggung besar dan mendapatkan perhatian publik. Memasuki usia 10 tahun, IDPFEST dinilai telah berhasil mengubah musik yang semula dianggap tidak populer menjadi sebuah perhelatan yang memiliki daya tarik dan nilai edukasi.
Direktur Seni Musik, Film dan Animasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Dr. Mohammad Amin, M.Sn., M.A. atau yang akrab disapa Amin Abdullah, memberikan apresiasi tinggi kepada Ekki Soekarno, penggagas sekaligus pendiri IDPFEST.
Menurut Amin, konsistensi Ekki selama satu dekade dalam menghidupkan festival drum dan perkusi merupakan pencapaian yang patut diapresiasi.
“Saya salut dan mengapresiasi kinerja Ekki Soekarno yang telah membuat festival yang awalnya tidak populer menjadi populer seperti sekarang ini. Ini pekerjaan yang tidak mudah,” ujar Amin Abdullah usai menghadiri pembukaan Satu Dekade IDPFEST di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Sebagai seorang musisi, Amin mengaku memahami betul tantangan yang harus dihadapi ketika membangun sebuah festival yang tidak berada di arus utama industri musik. Mulai dari menggaet penonton hingga mendapatkan dukungan dan sponsor, semuanya membutuhkan kerja keras dan konsistensi.
“Sebagai sesama musisi, saya tahu tidak mudah mencari dukungan dan sponsor untuk kegiatan seperti ini. Drum dan perkusi memang tidak sepopuler ajang pencarian bakat menyanyi. Karena itu, apa yang dilakukan Ekki selama 10 tahun ini patut diapresiasi,” katanya.
Lebih dari sekadar kompetisi, Amin melihat IDPFEST memiliki misi yang jauh lebih besar. Festival tersebut dinilai mampu menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan alat musik perkusi tradisional dari berbagai daerah di Indonesia kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Ekki tidak sekadar membuat lomba. Dia juga menggali alat musik perkusi dari berbagai daerah untuk ditampilkan di Jakarta. Ini penting agar generasi muda tahu bahwa alat musik tabuh di Indonesia sangat beragam,” tutur Amin.
Ia mencontohkan Dol dari Bengkulusebagai salah satu kekayaan musik perkusi Nusantara yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda. Menurutnya, kehadiran berbagai instrumen tradisional dalam festival seperti IDPFEST menjadi bagian penting dari upaya menjaga sekaligus mengembangkan kekayaan budaya Indonesia.
Amin juga mengapresiasi pertunjukan Orchestra Kharisma Indonesia yang menurutnya mampu mengemas musik perkusi dalam pertunjukan berskala besar, menarik sekaligus edukatif.
“Pertunjukan Orchestra Kharisma Indonesia tadi sangat menarik dan mengedukasi generasi muda. Apalagi dikemas dalam sebuah pertunjukan akbar. Ini menunjukkan bahwa musik perkusi bisa tampil dengan kemasan yang modern tanpa kehilangan akar budayanya,” ujarnya.
Sebagai Direktur Seni Musik, Film dan Animasi Kementerian Ekonomi Kreatif, Amin menegaskan bahwa pemerintah memiliki kepentingan untuk mendukung berbagai inisiatif yang dapat memperkuat ekosistem musik Indonesia.
Menurutnya, kemajuan industri musik nasional tidak hanya ditentukan oleh genre-genre yang sudah populer, tetapi juga oleh keberanian menghadirkan ruang bagi berbagai bentuk ekspresi musik yang memiliki potensi untuk berkembang. (SB)
“Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini. Pemajuan industri musik Indonesia melalui beragam kegiatan harus mendapat perhatian dan dukungan dari semua pihak, khususnya para pemangku kepentingan seperti kami,” pungkas Amin.
Sepuluh tahun perjalanan IDPFEST pun menjadi bukti bahwa konsistensi mampu mengubah sesuatu yang awalnya dianggap niche menjadi sebuah gerakan budaya. Dari sekadar festival drum dan perkusi, IDPFEST kini membawa misi lebih besar: memperkenalkan kekayaan musik tabuh Nusantara sekaligus membuka ruang bagi generasi baru untuk mencintai dan mengembangkan musik Indonesia. Selamat // Kelana Peterson
