Bukan Cuma Soal Nilai, SDN Jatisampurna II Tekankan Moralitas dan Gotong Royong

Bekasi– Sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai. Anak-anak juga perlu belajar tentang sopan santun, kepedulian, kemandirian, dan bagaimana hidup bersama orang lain.

Semangat itulah yang tengah dibangun SDN Jatisampurna II Kota Bekasi.

Kepala SDN Jatisampurna II, Idis Sudisman, S.Pd., mengatakan pendidikan akan berjalan maksimal jika sekolah tidak bekerja sendirian. Guru, orang tua, dan masyarakat perlu memiliki visi yang sama.

Hal itu disampaikan Idis dalam rapat bersama orang tua dan wali murid, Sabtu (12/9/2026).

“Pendidikan adalah sebuah simfoni besar. Ia menuntut kolaborasi multisektor,” ujar Idis.

Ia mengatakan slogan “Bangkit, Maju, Berprestasi” harus diwujudkan dalam keseharian siswa dan seluruh warga sekolah.

“Tanpa visi yang sejiwa, sekolah hanya tempat penitipan anak, pabrik pencetak nilai akademik, bukan tempat penyemaian karakter dan peradaban,” katanya.

Fasilitas Masih Jadi PR

Di balik semangat tersebut, SDN Jatisampurna II masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana.

Sejumlah wali murid berharap kondisi sejumlah bangunan dan ruang sekolah dapat mendapat perhatian dan perbaikan.

“Banyak ruangan atau bangunan yang memerlukan perbaikan mutu agar layak huni dan nyaman untuk belajar,” kata salah seorang wali murid.

Wali murid lainnya juga menyampaikan hal serupa.

“Prasarana di SDN Jatisampurna II ini masih sangat terbatas,” ujarnya.

Keterbatasan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah. Terlebih, kebutuhan pendidikan terus berkembang dan siswa membutuhkan ruang belajar yang aman, nyaman, dan mendukung aktivitas mereka.

Meski begitu, kondisi tersebut tidak membuat pihak sekolah berhenti bergerak.

Idis memilih membuka ruang komunikasi dengan orang tua. Rapat sekolah menjadi sarana untuk menjelaskan program sekaligus mengajak orang tua ikut berpartisipasi.

“Rapat hari ini sebagai bentuk sosialisasi program sekolah yang penting untuk diketahui para orang tua wali murid,” jelasnya.

Eddie Karsito: Anak Pintar Juga Harus Punya Adab

Pesan tentang pendidikan karakter juga disampaikan Ketua Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, Eddie Karsito.

Eddie hadir sebagai wali dari lima siswa yang merupakan anak pemulung dan pengamen jalanan. Mereka mendapatkan akses pendidikan melalui lembaga nirlaba tersebut.

Eddie mengajak sekolah dan orang tua tidak hanya fokus pada kemampuan akademik anak.

“Penting memprioritaskan adab sebelum ilmu,” tegasnya.

Ia kemudian bercerita tentang pola pendidikan di Jepang yang pernah diamatinya dalam sejumlah kunjungan.

Menurut Eddie, anak-anak di Jepang dibiasakan menghormati sesama, menyayangi lingkungan, dan bersikap sopan kepada guru serta orang tua.

Mereka juga dilatih mandiri sejak dini. Anak-anak terbiasa menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri dan ikut menjaga kebersihan lingkungan sekolah.

“Tidak ada petugas kebersihan khusus untuk ruang kelas; para siswa secara bergotong-royong membersihkan kelas, koridor, hingga toilet,” katanya.

Menurut Eddie, nilai yang paling penting untuk diambil bukan sekadar sistemnya, tetapi semangat pendidikan karakter dan tanggung jawab bersama.

“Pola pendidikan seperti ini fokus pada etika sejak dini. Mengasah kembali nilai gotong royong,” ujarnya.

Ia menilai pembiasaan tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk menghadapi berbagai persoalan sosial yang muncul di lingkungan anak dan remaja.

“Bisa membantu menekan masalah sosial, seperti perundungan, bullying, tawuran, hingga kecurangan akademik seperti mencontek,” pungkasnya.

Pada akhirnya, keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk berhenti membangun kualitas pendidikan. Sebab sebelum anak dituntut menguasai banyak ilmu, ada satu hal yang tak kalah penting untuk ditanamkan: bagaimana menjadi manusia yang baik.

// Kelana Peterson



Leave a Reply