- September 26, 2026
- Posted by: Eko Adjis
- Category: Berita
SOLO,– Penerbitan naskah wayang orang dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkokoh struktur identitas kultural bangsa Indonesia.
Melalui upaya kodifikasi teks yang terstruktur, dokumentasi tertulis ini tidak hanya berfungsi sebagai penyelamat warisan leluhur, tetapi juga menjadi katalisator produktif dalam mengontekstualisasikan dan mengintroduksi nilai-nilai adiluhung lokal ke ranah global.
Demikian antara lain dikemukakan Eddie Karsito, Ketua Pelaksana Survei Data dan Penelitian Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro, di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta, Jumat (25/09/2026).
“Langkah ini penting untuk mempermudah akses pakem wayang orang bagi generasi muda dan para peneliti. Melalui dokumentasi yang rapi, nilai filosofis budaya lokal dapat bertransformasi menjadi pesan universal yang relevan bagi peradaban,” ujar Eddie Karsito.
Di era modernisasi dan digitalisasi, kata Eddie, pengembangan kembali kesenian tradisional wayang orang menjadi momentum emas bagi kemajuan budaya nasional.
Langkah strategis ini berperan sebagai penguat identitas bangsa sekaligus katalisator produktif untuk membawa warisan luhur bangsa Indonesia menuju panggung dunia.
Kesenian wayang orang, menurut Eddie, merupakan mahakarya estetika yang memadukan unsur seni peran, tari, musik gamelan, dan sastra secara harmonis.
“Lebih dari sekadar tontonan, setiap pementasan mengandung tuntunan moral, nilai filosofis, dan nilai budi pekerti luhur yang merefleksikan identitas serta jati diri bangsa Indonesia,” ujarnya.
Selama sepekan (21–25 September 2026), Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan telah melakukan penelitian terkait penyusunan buku Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro.
Saat ini progres penyusunan buku tersebut dalam tahap pengumpulan data dan lanjutan penelitian.
Lembaga nirlaba tersebut menginisiasi proyek konservasi budaya melalui kodifikasi dan penerbitan 50 naskah pertunjukan terbaik karya dari keempat maestro; Ki Asmorohadi, Ki Manteb Soedarsono, Ki Tristuti Rahmadi, dan R.Ng. Undung Wiyono Praja Sasmita.
Tim Survei dan peneliti terdiri dari Eddie Karsito, Edy Sulistiono, S.Sn, dan Undung Wiyono, S.S.
Menyelamatkan Naskah Wayang Orang Karya Maestro
Penanggungjawab Survei dan Penelitian Undung Wiyono, S.S. menjelaskan, bahwa dokumentasi karya dan pengetahuan maestro berupa naskah wayang orang, berada dalam kondisi sangat mendesak.
Upaya ini menjadi krusial mengingat banyak maestro legendaris—seperti Ki Asmorohadi, Ki Tristuti Rahmadi Suryoputro, dan Ki Manteb Soedarsono—telah berpulang.
Naskah wayang orang, lanjut Undung, juga memerlukan perhatian khusus karena memiliki struktur adegan dan durasi pementasan yang berbeda secara signifikan dengan wayang kulit.
“Elemen-elemen penting seperti struktur cerita, untaian bahasa sastrawi khas pewayangan, ketepatan diksi, serta dramaturgi yang tersusun rapi dalam lima atau enam babak utuh harus segera dilestarikan,” tegas Undung,
Undung juga mengatakan, dokumen sejarah, tesis akademis, dan ulasan seni tentang wayang orang sebenarnya tersedia di lingkungan akademik.
Namun literasi populer yang dikemas dalam bentuk buku saku, infografis digital, atau konten ramah anak muda yang mudah diakses di toko buku atau internet umum sangat minim.
“Terlebih lakon wayang orang dalam bentuk naskah. Kebanyakan tradisi wayang orang diwariskan secara lisan (oral tradition) atau melalui pakem ingatan dari guru ke murid,” ujar Undung.
Buku Baru Wayang Orang: Mercusuar Pelestarian Seni Pertunjukan Dunia
Edy Sulistiono, S.Sn. menjelaskan bahwa penerbitan naskah wayang karya maestro ini merupakan upaya eksplorasi, penelitian, dan revitalisasi warisan kultural. Imperatif kolektif agar mata rantai kesejarahan tidak kepaten obor (terputus) demi menjaga integritas identitas kultural generasi penerus.
Buku ini mengelaborasi secara komprehensif dimensi historiografi, evolusi diakronis, morfologi pertunjukan, serta relevansi sosiologis wayang orang dalam lanskap kontemporer dan proyeksi masa depan.
“Bentuk teater tradisional yang berkesinambungan sejak era Mataram Kuna, eksistensi wayang wong meneguhkan posisinya sebagai manifestasi seni adiluhung yang melintasi zaman,” ujar Edy Sulistiono.
Selanjutnya legitimasi global semakin kukuh tatkala UNESCO menetapkannya sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity (Mahakarya Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Dunia) pada 7 November 2003.
“Saya berharap karya tulis ini hadir bagai mercusuar epistemologis yang menerangi khazanah pelestarian seni pertunjukan Nusantara,” tegasnya.
Menjaga Denyut Nadi Budaya
Ali Marsudi, seniman wayang orang dari kelompok Wayang Orang RRI Surakarta, mengapresiasi atas inisiasi penerbitan buku 50 naskah pementasan wayang orang ini.
“Gagasan visioner yang hadir sebagai jawaban atas kegelisahan sosiokultural kami, para pelaku seni, di tengah minimnya literasi dan dokumentasi tertulis mengenai khazanah adiluhung ini,” ungkapnya.
Para seniman wayang orang, kata Ali, memiliki impian kolektif dapat menghadirkan sebuah ruang literasi; agar wayang orang tidak sekadar bermuara sebagai tontonan visual yang efemer (bersifat sementara), melainkan tumbuh menjadi epistemologi yang dipahami secara mendalam melalui narasi tekstual.
“Momentum ini terasa kian personal dan bermakna substantif bagi saya. Mengingat sebagian besar lakon dalam naskah yang diabadikan ini merupakan perwujudan dari rekam jejak kepenarian dan keaktoran saya di atas panggung,” ungkapnya.
Bagi Ali Marsudi, langkah penerbitan naskah wayang orang karya maestro dengan narasi yang estetis dan memikat ini adalah jembatan transgenerasi yang krusial.
Memastikan agar denyut nadi kebudayaan ini terus beresonansi hingga generasi mendatang tanpa batas waktu.
“Wayang orang adalah sebuah semesta yang teramat luas dan kompleks. Semoga rekonstruksi literasi yang dilakukan secara bertahap ini mampu bertransformasi menjadi sebuah karya ensiklopedis yang utuh,” ujarnya.
Merawat Denyut Panggung: Misi Penyelamatan Naskah Wayang Orang
Seni pertunjukan wayang orang pernah memuncaki kejayaan estetisnya selama lebih dari dua abad—bahkan mendominasi panggung urban era 1960–1970-an dengan lebih dari sepuluh grup aktif di Jakarta.
Namun dari ratusan panggung yang pernah berdiri, kini gerak hidup tradisi ini hanya bersandar pada denyut nadi empat kelompok yang tersisa: WO Sriwedari dan RRI Surakarta di Surakarta, WO Ngesti Pandhawa di Semarang, dan WO Bharata di Jakarta.
Di sisi lain, laju mortalitas para maestro—seperti berpulangnya Ki Asmorohadi, Ki Tristuti Rahmadi Suryoputro, dan Ki Manteb Soedarsono—mengakibatkan terjadinya diskontinuitas pengetahuan yang akut.
Dengan adanya upaya pembukuan naskah lakon wayang orang ini, merupakan langkah strategis yang krusial untuk menjembatani kesenjangan linguistik (bahasa) dan ekspresi (seni peran) pada generasi aktor wayang orang masa kini.
Buku Dokumentasi Naskah Wayang Orang Karya Maestro ini akan dipublikasikan secara komprehensif dalam dua jilid buku, di mana masing-masing jilid merangkum 25 naskah terpilih.
Buku tersebut didistribusikan secara hibrida: edisi cetak fisik diterbitkan dalam jumlah terbatas. Sementara aksesibilitas massal dijamin melalui format E-Book yang diunggah pada situs resmi humaniora.id – Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan.//Kelanan Peterson
