- December 23, 2021
- Posted by: Eko Adjis
- Category: Berita
THE Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2021 diikuti akademisi perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) dan sejumlah ilmuwan dari berbagai negara seperti Arab Saudi, Iran, Amerika Serikat, Inggris, Turki, Korea Selatan, dan Malaysia. Mohammad Khalid Mas’uddari International Islamic University Islamabad, Pakistan, didapuk sebagai keynote speech serta beberapa discussion on stage (OSD) dan panelis yang hadir secara online.
Konferensi ini digelar dengan menggunakan teknologi AICIS one touch sehingga bias disaksikan secara langsung oleh ribuan mahasiswa dan masyarakat di mana pun berada. Acara yang berlangsung mulai 25 Oktober hingga 29 Oktober 2021 itu mengangkat tema Islam in a Changing Global Context: Rethinking Fiqh Reactualization and Public Policy.

AICIS ke-20 yang berlangsung di UIN Raden Mas Said Surakarta itu dibuka secara virtual oleh Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin. Dalam sambutannya, Wapres RI menjelaskan bahwa imbas Covid-19 telah berdampak pada setiap segi kehidupan masyarakat. Untuk itu, pemerintah perlu mengambil langkah yang bersifat extraordinary untuk menghadapi hal tersebut.
“Perlu masukan-masukan dari segimedis dan nonmedis. Di sini peran dari syariat Islam yang kontekstual sangat diperlukan guna memberikan rekomendasi serta masukan untuk hal tersebut. Peran fikih diharapkan juga mampumenguatkansolusiatasdampak Covid-19 bagi kehidupan umat manusia,” ujar Wapres dalam pembukaan AICIS 2021 di Hotel TheSunan, Solo, pada Senin (25/10).
AICIS 2021 merupakan wadah intelektual untuk diskusi para ilmuwan dan guru besar sebagai pemerhati studi keislaman. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam pidato sambutannya berharap bias menjadikan fiqh Islam sebagai jalan keluar dari setiap permasalahan social kemasyarakatan.
”Saya berharap AICIS dapat menjadi miniature studi keislaman di Indonesia. Kami terbuka terhadap kritik dan bersikap moderat. Kami berharap, AICIS kali ini dapat menjadi wahana untuk sikap moderasi beragama, wadah destinasi keilmuan bagi sejumlah PTKI di Indonesia, serta meningkatkan jejaring akademis,” papar Menag dalam sambutannya.
Pergelaran AICIS 2021 tahun ini juga istimewa karena dihadiri oleh Menteri Ekonomi Sri Mulyani yang berbagi pandangan tentang kontribusi fiqh Islam dalam membangun kebijakan finansial dan moneter di Indonesia saat menghadapi pandemi Covid-19.
Acara yang diprakarsai oleh Kementerian Agama itu telah menjadi forum dan konferensi studi Islam internasional tahunan yang bergengsi karena sukses menampilkan 365 paper yang dijaring dari 1.100 presenter di seluruh dunia. Forum tersebut membahas lebih dari 5.000 paper yang berisi temuan baru dalam studi Islam.
Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Prof DR M Ali Ramdhani menilai AICIS 2021 merupakan kegiatan yang monumental.
Ajang ini disebut sebagai AICIS Reborn karena merupakan momen napaktilas 11 tahun perjalanan AICIS. Pada 2009, konferensi internasional ini diterima Joko Widodo, sebagai walikota Surakarta waktu itu.”Sekarang kembali di kota yang sama, diterima oleh walikota Surakarta sekarang, Gibran Rakabuming Raka, putera Pak Jokowi,” ungkapnya.
Pada Kamis (28/10) malam, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI Prof Dr H Nizar Ali MAgmenutup acara AICIS 2021. Nizar mengapresiasi setinggi-tingginya semua pihak yang turut serta dalam menyukseskan kegiatan tersebut. ”Kegiatan ini berbeda dan luarbiasa. Meskipun di tengah masa pandemi, kreasi pelaksanaan secara virtual dirasa sangat luarbiasa,” sebutnya.
AICIS 2021 yang digelar secara hybrid itu diharapkan dapat bermanfaat untuk kemajuan dan kemaslahatan dunia. Kegiatan yang menghadirkan para pakar dari dalam dan luar negeri tersebut melahirkan sepuluh rekomendasi untuk kemajuan peradaban dunia dalam kontekstual Islam.
Di antaranya, keberpihakankajian Islam untuk memperkuat dan mendorong kemajuan pendidikan tinggi sebagai pusat penelitian yang peduli pada kebijakan publik; Islam yang moderat dan kritis perlu terus dikembangkan sehingga dialog yang sehat dapat dibangun dalam kehidupan dan praktik keagamaan; mengontekstualisasikan ajaran Islam dalam kehidupan warga negara; ajaran Islam yang komprehensif mampu digunakan dalam semua konsep kehidupan.

MENTERI Agama Yaqut Cholil Qoumas menilai rekontekstualisasif ikih sangat relevan dengan perkembangan dunia saatini. Karena itu, sangat penting melakukan rekontekstualisasi sejumlah konsep fikih atau ortodoksi Islam untuk merespons tantangan zaman.
”Penting bagi kita saat ini membuka ruang bagi pemikiran dan inisiatif yang diperlukan untuk membangun peran konstruktif bagi Islam dalam kerjasam menyempurnakan tata dunia baruini,” kata Gus Yaqut dalam pembukaan AICIS 2021 di Hotel The Sunan, Solo, pada Senin (25/10).
Dia meminta agar perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) tidak menjadi menara gading di tengah-tengah masyarakat. Kampus harus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
”Kampustidakbolehmenjadimenaragading. Hasil riset yang dipresentasikan di AICIS (Annual International Conference on Islamic Studies) sudah selayaknya menjadi asupan gizi bagi masyarakat yang ditunggu stakeholder yang akan memanfaatkannya,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Yaqut juga menyampaikan bahwa Kemenag berupaya agar warga akademik PTKI memiliki kualitas dan daya saing yang tidak kalah oleh kampus-kampus lainnya. Salah satucara yang ditempuh ialah menggelar berbagai kegiatan untuk memperluas akses agar intelektualitas, profesionalitas, semangat nasionalisme, serta berbagai kecakapan hidup insane kampus dapat berkembang.
”Halinimembutuhkankomitmenbersamaantara Kementerian Agama dan pimpinan perguruan tingg ikeagamaan Islam. Karena itu, para rektoratauketua PTKI harus mendukung penuh kegiatan-kegiatan akademik yang merupakan core values sebuah perguruan tinggi,” kata Menag.
Gus Yaqut juga meminta para rector untuk memberikan ruang riset yang luas pada insan-insan akademis sehingga dunia riset dapat berkembang dengan baik dan menjadi andalan dalam pertimbangan kebijakan publik.
”Dunia kampus hendaknya terhubung dengan pasar sehingga risetnya dapat berdampak nyata. Terbentuknyainsankampus yang kreatif dan inovatif menjadi sebuah keniscayaan. Tentu saja, insane kampus yang memiliki landasan kuat atas nilai-nilai kebangsaan dan moderasi beragama,” lanjut Menag.
