Pergerakan Bursa Saham Global Sepekan

Pergerakan bursa saham global sepekan dipengaruhi beberapa sentimen antara lain:

Ketiga indeks utama bursa saham AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat {20/12). Ketiga indeks acuam ditutup masing-masing lebih dari 1% usai inflasi AS menunjukkan perlambatan dan komentar dari pejabat Federal Reserve meredakan kekhawatiran tentang arah suku bunga. Penguatan Wall Street dipimpin oleh saham unggulan, seperti Nvidia dan perusahaan teknologi besar lainnya. Meski menguat pada akhir perdagangan minggu kemarin, ketiga indeks mencatatkan penurunan dalam seminggu. Nasdaq menghentikan kenaikan empat minggu berturut-turut. S&P 500 mengalami penurunan persentase mingguan terbesar dalam enam minggu. Sementara Dow Jones mengalami penurunan mingguan ketiga berturut-turut.

Rilis data inflasi terbaru yang sesuai ekspektasi turut mendorong penguatan pada kinerja indeks utama kemarin. Laporan inflasi terbaru dalam bentuk indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bulan November menunjukkan kenaikan 2,4% (yoy). Angka ini berada di bawah estimasi 2,5% dari para ekonom yang disurvei oleh Reuters. Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee mengungkapkan optimismenya terhadap data inflasi terbaru. Goolsbee menyatakan, angka inflasi ini memberikan harapan untuk kebijakan suku bunga yang lebih longgar di masa mendatang. Sebelumnya, The Fed telah mengumumkan pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 4,25%-4,50%.

Pasar juga mencermati sejumlah rilis data ekonomi negara lain. Indeks Harga Konsumen (IHK) Inggris meningkat 2,6% (yoy), naik dari 2,3% (yoy) pada Oktober, menurut Kantor Statistik Nasional pada Rabu (18/12). Hal ini sejalan dengan Langkah Bank of England (BOE) yang selanjutnya mempertahankan suku bunga acuannya di angka 4,75% pada Kamis (19/12). Hal ini sekaligus mendukung ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan selanjutnya hingga inflasi terkendali ke target bank sentral, yakni 2%.

Domestic Highlights

Perkembangan dari pasar saham domestik pada akhir pekan lalu (20/12) menunjukkan IHSG ditutup melemah sebesar 4,65% (wow) ke posisi 6.983,87 dari penutupan pekan sebelumnya (13/12) pada level 7.324,79. Rata-rata nilai transaksi harian sepanjang pekan lalu turun dibandingkan pekan sebelumnya, yakni menjadi Rp12,25 triliun dari sebelumnya Rp20,20 triliun. Dengan demikian, rata-rata nilai transaksi harian sejak awal tahun senilai Rp12,88 triliun. Sementara itu, sepanjang pekan lalu investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp4,09 triliun. Secara akumulatif, investor asing membukukan net buy senilai Rp15,84 triliun sejak awal tahun. Rupiah berdasarkan kurs Bloomberg terdepresiasi ke level Rp16.195/USD dari sebelumnya sebesar Rp15.995/USD. Adapun sektor technology, properties & real estate, dan basic materials mencatatkan penurunan paling besar pada tren pelemahan IHSG sepanjang pekan lalu.

Beberapa informasi ekonomi penting selama sepekan kemarin antara lain:

BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate pada level 6% pada Desember 2024. Keputusan ini bertujuan untuk memastikan terkendalinya inflasi di kisaran 2,5±1% pada 2024 dan 2025, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

BPS: Neraca perdagangan RI tercatat surplus sebesar USD4,42 miliar per November 2024. Dengan demikian, *neraca perdagangan RI telah mencatatkan surplus selama 55 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

BUMN menyetorkan dividen sebesar Rp86,4 triliun ke kas negara per November 2024.Jumlah ini naik sebesar 5,9% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pemerintah memastikan tarif PPN 12% tetap berlaku pada 1 Januari 2025. Bersamaan dengan kenaikan tarif tersebut, pemerintah juga telah menyiapkan berbagai paket kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat.

Pemerintah akan melakukan penghapusan utang 1 juta UMKM tahap I pada Januari 2025. Fasilitas ini menyasar 1,09 juta pelaku usaha yang bergerak di sektor strategis.

Kemenkeu resmi menetapkan kenaikan harga jual eceran rokok pada tahun 2025. Kemenperin turut memastikan komunikasi dengan pelaku usaha rokok guna menjaga kinerja Industri Hasil Tembakau (IHT).

Pemerintah melanjutkan insentif PPN ditanggung pemerintah (DTP) sebesar 10% untuk pembelian mobil listrik pada 2025. Selain itu, pemerintah juga memberikan insentif PPnBM DTP sebesar 3% untuk mobil hybrid.(ly/ril)



Leave a Reply