- September 23, 2024
- Posted by: Eko Adjis
- Category: Berita
Pergerakan bursa saham global sepekan dipengaruhi beberapa sentimen antara lain:
Mayoritas indeks utama acuan Wall Street ditutup menurun tipis, dengan Dow Jones menuju rekor tertinggi baru pada perdagangan Jumat (20/9)*. Hal ini karena investor mempertimbangkan ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve lebih lanjut menyusul pemangkasan besar-besaran bank sentral awal minggu lalu. Secara mingguan, S&P 500 naik 1,36%, Nasdaq naik 1,49%, dan Dow Jones menguat 1,62%. Pada hari sebelumnya, Dow Jones mencetak rekor di atas 42.000 dan S&P 500 menembus 5.700 untuk pertama kalinya.
Pidato dari para pejabat The Fed seputar pemangkasan suku bunga masih menjadi fokus pasar. Ketua Fed Jerome Powell mengatakan dia tidak melihat adanya risiko yang tinggi saat terjadi perlambatan*. Sehingga para pembuat kebijakan memproyeksikan suku bunga acuan akan turun lagi. Gubernur The Fed, Christopher Waller, meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral akan kembali memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin pada pertemuan November, setelah memangkas suku bunga dengan besaran yang sama pada Rabu lalu. Namun, Gubernur Michelle Bowman menyatakan bahwa pemotongan yang lebih kecil minggu ini mungkin lebih dinantikan. Sebagai informasi, pada Rabu (18/9), The Fed memangkas suku bunga sebesar 0,5% atau 50 basis poin (bps). Pasar sepenuhnya memperkirakan akan ada pemotongan setidaknya 25 bps pada bulan November, dengan peluang pemotongan sebesar 50 bps mencapai 48,9%, menurut CME FedWatch Tool.
* *Selain bank sentral AS, China dan Jepang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan. People’s Bank of China (PBOC), mempertahankan suku bunga dasar pinjaman atau loan prime rate (LPR) satu tahun pada 3,35%, sedangkan LPR lima tahun tidak berubah pada 3,85%*. Namun, pelaku pasar percaya bahwa stimulus lebih lanjut akan digulirkan untuk menopang perekonomian yang sedang lesu. Sejalan, Bank of Japan (BoJ) tidak mengubah suku bunga. Keputusan ini menunjukkan bahwa BoJ tidak terburu-buru menaikkan suku bunga, meskipun sembari memantau pasar keuangan dengan ketat setelah kenaikan suku bunga pada bulan Juli yang sempat membuat investor cemas.
*Domestic Highlights*
Perkembangan dari pasar saham domestik pada akhir pekan lalu (20/9) menunjukkan IHSG ditutup melemah sebesar 0,88% (wow) ke posisi 7.743,00, dari penutupan pekan sebelumnya (13/9) pada level 7.812,13*. Rata-rata nilai transaksi harian sepanjang pekan lalu turun dibandingkan pekan sebelumnya, yakni menjadi Rp14,93 triliun dari sebelumnya Rp14,98 triliun. Dengan demikian, rata-rata nilai transaksi harian sejak awal tahun senilai Rp12,76 triliun. Sementara itu, sepanjang pekan lalu investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp4,71 triliun. Secara akumulatif, investor asing membukukan net buy senilai Rp56,11 triliun sejak awal tahun. Rupiah berdasarkan kurs Bloomberg terapresiasi ke level Rp15.150/USD dari sebelumnya sebesar Rp15.400/USD. Adapun sektor basic materials, technology, dan infrastructure mencatatkan penurunan paling besar pada tren pelemahan IHSG sepanjang pekan lalu.
Beberapa informasi ekonomi penting selama sepekan kemarin antara lain:
BI menurunkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 6,00% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan September 2024*. Keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi yang terkendali dalam sasaran 2,5±1% hingga tahun 2025.
BI menurunkan BI-Rate menjadi 6,00% seiring proyeksi penurunan suku bunga The Fed*. Langkah ini juga didorong oleh penguatan nilai tukar rupiah, inflasi rendah, serta upaya mendorong pertumbuhan makroprudensial dan kredit perbankan.
Utang Luar Negeri (ULN) pemerintah tercatat sebesar USD194,3 miliar pada Juli 2024*. Utang tersebut naik sebesar 0,6% (yoy) setelah setelah sebelumnya mengalami kontraksi sebesar 0,8% (yoy) pada bulan Juni 2024.
DPR RI menyetujui UU APBN 2025 dengan belanja negara sebesar Rp3.621,31 triliun dan pendapatan Rp3.005 triliun*. Dengan demikian, defisit APBN diproyeksikan mencapai Rp616,19 triliun atau 2,53% dari PDB.
BPS melaporkan surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar USD2,9 miliar pada Agustus 2024*. Adapun perolehan tersebut menambah catatan panjang surplus neraca perdagangan Indonesia selama 52 bulan berturut-turut.
BPS: Impor non-migas tercatat sebesar USD6,43 miliar pada Agustus 2024, turun dari USD6,53 miliar di bulan sebelumnya. Namun, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan bulan Agustus 2023 yang mencapai USD5,19 miliar.
Kementerian PUPR menambah anggaran pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebesar Rp9,11 triliun untuk tahun 2025*. Sehingga, total anggaran IKN tahun 2025 menjadi Rp13,24 triliun, naik dari anggaran awal Rp4,13 triliun.
