- April 8, 2026
- Posted by: Eko Adjis
- Category: Berita, Business Hour
Sentimen pasar global didominasi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang memberikan napas lega bagi investor.
Gencatan Senjata 14 Hari: Presiden AS, Donald Trump, menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran, hanya dua jam sebelum tenggat waktu serangan besar-besaran. Keputusan ini diambil setelah Iran mengajukan proposal 10 poin sebagai dasar negosiasi, sesuai mediasi Pakistan dan dukungan Israel.
Reaksi Pasar Wall Street & Komoditas: Wall Street ditutup bervariasi dengan aksi beli menjelang akhir perdagangan yang membalikkan kerugian harian. Di pasar komoditas, harga minyak WTI turun signifikan merespons berkurangnya risiko gangguan pasokan.
Aktivitas Selat Hormuz: Lalu lintas di Selat Hormuz mencapai level tertinggi sejak awal konflik. Tercatat 21 kapal melintas selama akhir pekan, termasuk kapal dari India, China, dan Turki, yang memperkuat kendali Iran atas jalur tersebut melalui kesepakatan jalur aman.
Kekhawatiran Stagflasi Fed: Presiden The Fed Chicago memperingatkan risiko stagflasi—inflasi tinggi di tengah pertumbuhan ekonomi yang terhambat akibat perang. Fokus pasar kini tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) akhir pekan ini.
Domestic Highlights: Tekanan Rupiah & Kinerja Fiskal
Kondisi pasar keuangan domestik masih menghadapi tantangan tekanan nilai tukar dan arus modal keluar.
Pasar Keuangan & Moneter
IHSG & Arus Modal: IHSG ditutup melemah 0,26% ke level 6.971,03 (7/4). Investor asing mencatatkan net sell jumbo sebesar Rp1,78 triliun dalam sehari, sehingga total net sell sepanjang tahun mencapai Rp36,23 triliun.
Tekanan Rupiah: Mata uang Rupiah terdepresiasi ke level Rp17.095/USD. Menanggapi hal ini, Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi di pasar spot dan DNDF, serta bersiap melakukan buyback obligasi di pasar sekunder.
Surplus BI: BI berencana menyetorkan surplus anggaran tahun 2025 senilai Rp33 triliun kepada pemerintah (setelah dikurangi kewajiban Rp45 triliun).
Kinerja APBN & Kebijakan
Penerimaan Pajak Kuartal I-2026: Tumbuh positif 20,7% (yoy) menjadi Rp394,8 triliun, ditopang lonjakan PPN dan PPnBM sebesar 57,7%.
Bea Cukai Melambat: Penerimaan turun 12,6% (yoy) menjadi Rp67,9 triliun akibat penurunan harga CPO dan produksi akhir tahun 2025.
Kenaikan Tiket Pesawat: Pemerintah mengizinkan maskapai menaikkan harga tiket sebesar 9%–13% sebagai imbas lonjakan harga avtur yang meroket lebih dari 70% akibat konflik global.
