Dibalik Aroma Kopi

Bagi Arini, kesunyian bukanlah sebuah lubang kosong yang harus diisi, melainkan sebuah kanvas yang ia lukis setiap hari. Di usianya yang menginjak tiga puluh lima, “hidup sendiri” bukan lagi sebuah fase transisi, melainkan sebuah pilihan yang ia peluk dengan erat.

Pagi itu, Jakarta sedang tidak bersahabat. Langit abu-abu menggantung rendah, menumpahkan rintik hujan yang mengetuk jendela apartemen tipe studionya dengan irama yang monoton. Arini tidak terburu-buru. Hanya ada dia dan seekor kucing tabby bernama Mochi yang sedang sibuk menjilati bulunya di atas sofa beludru hijau

Arini berjalan ke dapur kecilnya. Gerakannya efisien dan tenang. Ia menggiling biji kopi manual; suara derit mesin giling kecil itu adalah musik pembuka harinya.

Sore harinya, saat hujan mereda, Arini turun ke supermarket di bawah gedung apartemennya. Di sana, ia berpapasan dengan Sarah, teman lamanya yang sedang menggendong balita sambil menenteng dua kantong plastik belanjaan yang tampak berat. Wajah Sarah terlihat kuyu, ada lingkaran hitam di bawah matanya.

​”Arini! Sendirian saja?” tanya Sarah, suaranya sedikit meninggi untuk mengalahkan tangis anaknya.

​”Iya, Sar. Mau beli stok susu dan buah,” jawab Arini lembut.

​”Enak ya, kamu. Masih punya banyak waktu buat diri sendiri,” ujar Sarah dengan nada yang sulit diartikan—antara rindu dan iri. “Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku bisa mandi lebih dari lima menit.”

​Arini tersenyum tipis. Ia membantu membawakan satu kantong belanjaan Sarah sampai ke parkiran. Saat Sarah pergi, Arini merasakan sengatan kecil di dadanya. Bukan rasa iri, melainkan rasa syukur yang bercampur sedikit melankolis. Ia tahu, hidupnya mungkin terlihat “sepi” di mata dunia yang bising, tapi di dalam dinding apartemennya, ia adalah ratu atas waktunya sendiri.

Malam tiba. Arini tidak menyalakan televisi. Ia memilih menyalakan piringan hitam yang memutar lagu-lagu jazz klasik. Ia memasak pasta untuk satu orang—porsinya pas, bumbunya tepat sesuai seleranya, tanpa harus berkompromi dengan lidah siapapun.

​Ia duduk di balkon kecilnya, melihat lampu-lampu kota yang berpendar seperti berlian yang terserak. Hidup sendiri mengajarkannya satu hal penting: ia adalah teman terbaik bagi dirinya sendiri.

Arini menutup harinya dengan membaca buku di bawah selimut hangat. Sebelum mematikan lampu, ia menatap pantulan dirinya di cermin. Tidak ada air mata kesedihan, hanya ada binar tenang seorang wanita yang telah berdamai dengan dunianya yang kecil, namun utuh.

​Ia mematikan lampu, dan dalam kegelapan itu, ia tidak merasa hilang. Ia justru merasa ditemukan.(Eldi)



Leave a Reply